Tuesday, January 25, 2011

The Sixth Year of Marriage


Besok, 26 Januari 2011, adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-6. Well, well, well, nggak nyangka aja ternyata sudah selama ini. Bahkan udah jauh ngelewatin terrible two, yang kalau dalam ukuran orang Amrik sana, dua tahun pernikahan itu yang jadi titik penting, apakah lanjut atau bercerai. Kalau dipikir2 sih, kok kami berdua bisa ya? Apalagi kalo dipertimbangkan dari kepribadian kami masing-masing. Ugh. Gue yang ampun dah, kaku banget, keras banget, sinis banget, penuh planning, sok ngatur, merasa tahu segala hal, super dominan, sekaligus demokratis abis, fleksibel abis, rendah hati abis, baik hati abis, tulus abis, spontanitas abis, bahkan meski dunia ini memungkinkan didominasi oleh hanya satu orang, gue lebih suka memilih untuk skip aja, coz nilai2 keluarga adalah segalanya bagi gue hehehe. Sementara Ivan orang yang sangat fleksibel, santai, sekaligus meremehkan apapun di atas apapun, dan ia percaya semuanya berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan kita. Hah, bukannya itu sama sekali omong kosong? Hal sepenting nasib maupun hal seremeh seperti membeli air minum di warung pertama yang bisa kita temui, seluruhnya ada di tangan kita. Itu adalah upaya, usaha. Mendominasi keseluruhan paket kehidupan. Doa adalah pengiringnya. Bakat dan keberuntungan melengkapinya sedikit, sementara yang membuatnya sempurna adalah takdir Tuhan.

Hahaha, seperti itulah berbanding terbaliknya kami. Tapi analogi mur dan baut ternyata benar2 berjalan dengan baik di sini. Pasangan mur ya pasti baut. Bukan mur dengan mur. Atau baut dengan baut. Jawabannya hanya kompromi. Meski yaaah, memang sih, masih ada beberapa hal yang belum bisa kami kompromikan, tapi lumayanlah. Setidaknya kami saling menghargai masing2 kami apa adanya.

Nah,  sampai di sini, beberapa hari yang lalu seorang teman, ia belum menikah, bertanya, bagaimana sih caranya memastikan bahwa dia adalah seseorang yang tepat? Hmm, bingung juga gue jawabnya. Waktu itu gue cuman tahu begitu aja, bahwa Ivan memang orang yang tepat. Tapi sekarang, setelah mikir dan mikir lagi, sebenarnya memang ada beberapa petunjuk di sana-sini yang gue pakai untuk memilih Ivan.


Pertama adalah buku kecil ketikan Eddie Vedder, berjudul Whom To Marry/Not To Marry, sebagai cover album Pearl Jam ke-3, Vitalogy. Catet ya, bahkan petuah orangtua pun nggak bakalan gue dengerin, tapi yang satu ini, gue bener2 percaya betapa realistisnya hal-hal yang tercantum. Gue pernah bahas sih di postingan sebelumnya, nggak usah lah yaa diulang2 hehehe, pokoknya Eddie berhasil memprovokasi gue jadi seperti ini :
  1. Nggak mudah percaya bahwa ketertarikan fisik itu artinya cinta
  2. Nggak gampang untuk jatuh cinta.
  3. Nggak bisa langsung suka/cinta sama seseorang yang belum dikenal, karena menurut Eddie kita harus tahu kepribadian dan kebiasaannya dulu. Jadi gue selalu hanya suka/cinta sama teman sendiri, hehehe, yah kecuali si orang yang belum dikenal bisa jadi temen dulu untuk beberapa lama, supaya gue bisa memutuskan apakah dia memenuhi syarat apa nggak *berasa princess ajah hahaha*
  4. Nggak pengen jadi perempuan yang tujuan hidupnya hanya baju, karena jika hal2 yang mewah2 seperti ini sudah menguasai pikiran, jiwa akan jadi tumpul, dan pikiran akan gagal berkembang.
  5. Pengen jadi perempuan yang bisa berimbang dengan kemampuan berpikir laki2 supaya jadi partner yang baik untuknya.
  6. Cowok yang sombong, kejam, mau menang sendiri, pemabuk, narkoba, judi adalah harga mati.
  7. Berjuang untuk tetap hidup adalah hal yang terpenting.
  8. Dan tetap berada dalam kondisi tubuh yang fit supaya bisa menikmati hidup adalah yang kedua terpenting.
Lumayan banyak, ya? Hehehe, pantesan gue susah punya pacar! Tapi gue ngerasa worth it, lah. Apalagi pas beberapa tahun kemudian gue nemu pencerahan yang kedua, sebuah paragraf dari bukunya Susanna Tamaro, penulis Spanyol, berjudul Va Dove ti Porta il Cuore, Pergilah Kemana Hati Membawamu, keluaran sekitar tahun 2003-2004an.

It said, “Dalam kehidupan setiap lelaki, hanya ada seorang wanita. Bersama wanita itu dia akan mencapai persatuan yang sempurna. Dalam hidup setiap wanita, hanya ada satu lelaki. Dan bersamanya wanita itu menjadi lengkap. Namun hanya sedikit, sangat sedikit manusia yang ditakdirkan untuk bertemu. Sisanya terpaksa hidup dalam ketidakpuasan, dalam kerinduan abadi. Akan ada berapa banyakkah perjumpaan seperti kita? Satu dalam sepuluh ribu, satu dalam sejuta, atau satu dalam sepuluh juta? Pasti satu dalam sepuluh juta. Pasangan-pasangan sisanya adalah hasil kompromi, ketertarikan dangkal yang bersifat sementara, daya tarik fisik, kemiripan karakter, atau sekedar kebiasaan. Kita ini sangat beruntung, ya kan? Siapa yang tahu ada apa di balik semua ini? Siapa yang tahu?”

Waktu pertama kali baca paragraf ini, gue langsung mikir dan mikir. Ini bener banget. Satu dalam sepuluh juta. Siapa yang nggak pengen? Dan siapa yang pengen jadi pasangan-pasangan sisanya? Ya, siapa sangka jika tak hanya fisik dan kemiripan karakter, tapi ternyata juga kebiasaan dan bahkan kompromi adalah hanya sisa? Oke, itu baru pertanyaan pertama, sementara the big question-nya adalah bagaimana kita tahu bahwa saat bersama seorang pria kita menjadi lengkap atau tidak?

Hahaha, pertanyaan pertama aja belum kejawab (apa ia seorang yang tepat), apalagi pertanyaan ini, gimana kita tahu kita lengkap atau nggak saat bersamanya? Well, setidaknya buku kecil Eddie dan satu paragraf Susanna sudah membentuk sedikit demi sedikit proyeksi gue akan seorang pacar, meski keduanya belum bisa menjawab secara sempurna pertanyaan2 di atas. Lumayan lama sih hingga akhirnya gue menemukan satu jawaban praktis, yang sesuai logika dan pengalaman gue, yang mampu menjawab pertanyaan2 maha penting sedunia itu *norak, ih*

Yang satu ini berupa artikel kecil di tabloid, gue lupa judulnya apaan dan dari tabloid apaan *nggak bisa diandalin banget, yak*. Tapi gue inget inti artikelnya, bahwa ada tiga hal yang harus dijadikan prinsip dan pondasi dalam pernikahan, yaitu keuangan, komunikasi dan keluarga. Bukannya kita harus mencari seorang pria yang stabil dan mapan, tapi apakah prinsip keuangan kita sama dengan si dia. Lalu bagaimana cara kita berkomunikasi. Penting bagi pasangan untuk membuka semua jalur komunikasi yang ada, apa adanya, tanpa menyembunyikan rahasia sekecil apapun, dan dilakukan dalam intensitas yang sering. Jadi masing2 saling tahu kondisi terakhirnya. Dan yang terakhir adalah keluarga, nilai2 keluarga seperti apa yang akan dipegang adalah kesepakatan kedua belah pihak.

Ketiga hal itu juga yang gue cari di Ivan, sebelum gue memutuskan memilih dia *bener2 berasa princess dah, gaya luh! :)*. Pandangan kita sama tentang keuangan: memang sih uang itu hal yang penting, tapi masih ada hal-hal yang lebih penting, dan kita adalah manusia yang hidup di hari ini, meski tetap setuju bahwa esok sangat layak untuk ditunggu-tunggu. Setidaknya kita nggak pelit, nggak boros juga, nggak sok kaya, nggak sok miskin juga hahaha. Believe me, gue mengenal beberapa cowok yang, ya ampun, pelit banget *meski itu untuk bayar ongkos angkot*, pokoknya nggak ada manner-nya bangetlah sebagai cowok. Terus dalam hal komunikasi, kita percaya akan konsep keterbukaan dan intensitas. Sebagai cowok, Ivan bahkan nggak malu mengakui kalau ia menangis untuk hal-hal yang benar2 menyedihkan, meski dia tetap jaga gengsi soal minta maaf, hahaha. Dan soal keluarga, kami percaya keluarga adalah yang terpenting. Sebisa mungkin dalam mengambil keputusan apapun, kepentingan keluarga di atas segalanya.

Oya lupa, ada satu bonus kenapa gue akhirnya memilih Ivan: dia itu kocak banget! Hahaha, lumayanlah untuk mentertawakan hidup yang makin semrawut, ya kan? Dan setelah semua syarat ini terpenuhi, gue cukup yakin untuk menentukan bahwa Ivan memang orang yang tepat. Gilak yak, pede luar biasa. Hihihi. Yah, kami sih berdoa untuk ke depannya, semoga ajalah, dengan bekal tiga pondasi dan satu bonus, kami tetap bisa mengarungi hidup senyaman mungkin, entah itu kondisi dompet milyaran *gayus dunk* maupun cepean hehehe. Amiiin…   

Tapi guys, gue percaya bahwa mestinya artikel itu nambahin satu hal lagi sebagai pondasi penting pernikahan, yaitu soal dekorasi rumah! Ya ampuuun, itu satu hal2 yang bener2 bikin ribut. Hahaha, di Amrik sana bahkan sudah nyampe di tangga ke-4 sebagai penyebab perceraian!


Share/Bookmark

Tuesday, January 11, 2011

Me Versus Eddie Vedder


Sore beberapa hari yang lalu, paket yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang. Sebuah DVD dokumentasi Pearl Jam Night yang ke-V, acara tahunan komunitas pecinta Pearl Jam di Indonesia, dengan homebase Jakarta. Oh, ternyata isinya ada dua CD, satu isinya rekaman visual jamming-nya, satunya lagi format MP3. Malamnya tuh DVD langsung gue puter, gue pilih yang bisa ditonton dulu dunk, daripada yang didengerin hehehe.

Well, ternyata itu rekaman lumayan dikit isinya, emang sih semua band ada di situ, tapi nggak semua lagu yang mereka bawain ada di dalamnya. Lumayanlah, apalagi satu-satunya lagu yang gue serius penasaran banget gimana visualisasinya, Corduroy, terpilih sebagai pembuka. Wiih, bener kata Eko dalam notes-nya, one of the PJID admin, cabikan gitarnya om Dankie, si pohon tua seniman asal Bali, benar-benar menyuguhkan sihir ke dalam lagu itu.

Sayang, secara perform DVD keseluruhan, kualitas rekaman suaranya nggak gitu asyik. Suara vokalisnya kalah gede sama suara alat musiknya. Jadi sepanjang nonton, yang ada hanya berisik dan berisik, gue kurang bisa menikmati suara vokal si penyanyinya. Padahal itu yang paling penting, kan, dalam sebuah acara pertunjukan musik. Saking berisiknya, suami sampe kebangun sambil bawa bantal, merem melek, ucek2 mata, kirain ada ribut-ribut apaan gitu. Hahahaha. Padahal gue cuman nyetel sampe level 3 bars di volume player-nya.

Kesimpulannya setelah menikmati tontonan itu, well, not bad, tetep aja yak, nonton secara live lebih direkomendasikan daripada beli DVD-nya, hehehe.

Things were running simply boring, sampe akhirnya gue tidur. Di dalam mimpi gue ngerasa melayang-layang nggak keruan kesana-sini, hingga finally gue mampir di sebuah ruangan kecil, yang tengah mengadakan rapat kecil. Tema rapatnya itu yang mencengangkan: bahwa seorang Eddie Vedder benar-benar akan datang ke Indonesia beberapa hari kemudian, dimana ia mau konser tapi hanya ingin ditemani oleh musisi lokal. Wiiiih, gilaaaaak! Gue makin demen ajah sama si om yang satu ituh, betapa berani ia mengambil keputusan-keputusan penting yang sangat beresiko *ini masih dalam mimpi lho, yah*

Sejurus kemudian, gambar-gambar dalam kepala gue saling mengacak, hingga tibalah D-day. Seingat gue, saat itu gue disibukkan dengan tugas ini-itu, entah apaan, gambarnya saling mengacak lagi, pokoknya tuh tumpukan tugas mesti dilaksanain, diselesein dan gue udah takut aja gue nggak bakalan bisa dateng pas konsernya.

Bener aja. Gue ketinggalan konsernya! Keseeeeelllll……! Gondooooookkk…….! Gue hanya bisa nonton rekamannya, dimana si om ganteng pake kemeja ijo lumutnya, my also foreva favorite colour, duduk di atas bangku tinggi di panggung studio kecil, memetik gitarnya sambil tersenyum, menyanyikan Around The Bend. Sementara sejumlah musisi lokal yang menemaninya di sekelilingnya, nyengir dan terus-menerus nyengir, mungkin kalo nyengir bisa mengakibatkan kematian, mereka udah tewas beberapa menit setelah acara dimulai. Sapiiiiiiii….!


Padahal inilah jenis konser yang gue impi-impikan seumur hidup *kayak ini lagi nggak mimpi ajah, hahaha*. Bukannya di lapangan besar dengan mereka nge-band jauh di atas panggung sana, sementara gue nyempil di kerumunan banyak orang. Eeeeww, got so crowded, I can’t make room. Itulah kenapa gue nggak suka materi2 bootlegs yang kebanyakan isinya konser Pearl Jam disanalah, disinilah. Gue lebih suka konser yang lebih private, yang lebih bisa menikmati full suara vokal si om dan musiknya secara utuh di dalam ruangan, mmm… apa ya istilahnya, mmm lebih ke PJfreak friendly kali yaa *coba2 ngikutin istilah user friendly, tapi nggak tau pas atau nggak, nangkep atau nggak, hehehe*. Makanya konser unplugged Pearl Jam di MTV tahun 1992 itulah favorit gue, meski si om Eddie-nya sempat lumayan aneh dengan nyanyi sambil berdiri dan muter-muter di atas kursi :p

Samar-samar terdengarlah suara dede Naula, “Cucuuuu… cucuuuuu, buuu…..”. Refleks gue bangun, terhuyung-huyung keluar kamar, liat jam, hmmm… jam tiga pagi, cari botol susu, bikin susu lambat-lambat, kasiin ke mulut dede Naula, dan tidur lagi.

Gambar-gambar kembali muncul. Melayang-layang menjejak ke sana-sini. Slowly but sure, mendadak gambar berhenti dan kembali ke scene sebelumnya. Scene dimana gue teriak kekeselan karena ketinggalan konser si om ganteng. Saking keselnya gue bertekad bahwa gue harus ketemu si om entah gimana caranya. Mumpung dia masih semalam di Jakarta. Gue pun berjalan dan berjalan. Nggak tau mau kemana. Pokoknya buru-buru bangetlah. Hahaha.

Sampe akhirnya muncul gambar sebuah lokasi. Kayaknya kok gue familiar banget, yak, sama lokasi ini. Sawah menyebar di sepanjang jalan, rimbunan hutan kecil di kejauhan, pagar-pagar bambu di jalan setapak tanah merah. Semak-semak meliuk disana-sini tertiup angin. Lha, ini kan sawah di belakang kampus gue dulu? Hahahaha. Ngapain gue kesini, sih? *yak, kampus gue yang antik, dikelilingi sawah, empang dan kebun karet dan hutan kecil jauh di ujungnya* :))

Meski kebingungan, sebenarnya gue mau dibawa kemana sih sama ini mimpi, huh, gue tetap sabar ngikutin apa maunya. Gue susurin jalan setapak dengan meraba-raba pagar bambunya. Hingga tiba di belokan tajam yang penuh semak-semak tinggi. Lalu, voilla!

Mendadak muncul si om pas di depan gue. Haaah? Beneran nih? Gue terbengong-bengong menatap si om yang penuh kharisma ini. Kemeja ijo lumutnya udah ganti pake kaos ijo lumut *hehehe, teuteeeuuup*, celana khaki warna item dan dia sendirian! Si om tersenyum dan nanya apaan gitu. In English, of course. Hahaha. Untungnya gue lumayan bisa ngilangin nervous. Gue jawab juga in English. Hihihi. Dan kita terus tanya jawab dalam bahasa inggris. Nggak tau nanya apaan, nggak tau jawab apaan. Kayaknya waktu dalam mimpi sih hebat banget, ber-isi bangetlah obrolannya, tapi pas sekarang mau ditulis, diinget-inget, kok malah lupa! Hihihi.

Sampe akhirnya kita saling diem-dieman. Bukannya keabisan bahan obrolan rasanya, tapi karena saking nggak percayanya bisa ketemuan. Hahahahaha. Gue liatin si om sambil nyengir-nyengir. Si om juga gitu, liatin gue sambil senyum-senyum. Waduuuh, kok kiyut banget sih si om yang satu ini. Terus tau-tau, gue deketin muka si om, gue seriusin liat matanya. Kok gue proaktip gitu sih, nggak abis mikir deh. Hahaha. Apalagi, iiiih, ternyata si om juga ngelakuin yang sama. Setelah muka gue dan si om berada dalam jarak yang cukup, tiba-tiba gue tangkupin kedua tangan di kedua pipinya, dan gue nanya, “May I?”

Bwahahahahahaha. Asli ancur banget. Dari sekian banyak obrolan menyenangkan yang gue inget cuman adegan yang satu ini, kalimat yang satu ini. Bwakakakakak. Asli deh, gue mesti acungin jempol kaki buat gue sendiri, coz nggak mungkin bangetlah gue kayak gitu di dunia nyata. Hello? Nyium duluan? Hahahaha saking gengsinya gue bahkan lebih suka salto tujuh kali dah!

Lucunya, biarpun di dalam mimpi, gue masih tetep berlogika, gue harus ijin dulu sama si om kalo mau nyium, kan dia cinta banget sama istrinya, bwakakakak. Untungnya si om ngerti kalo ciuman ini bukan ciuman apa-apa, tapi just a freaky fans yang serius penasaran banget pengen nyium idolanya. Dan terjadilah, si om mau aja gue cium! Huwahahahahaha lucky me!

Sebenarnya sih, ya ampun, gue malu banget nulis pengalaman seronok ini, tapi sekali lagi yaaa ampuuun…., kenapa tangan dan otak gue jadi gatel banget pengen nulis privasi ini yak? Yang gue sebelin adalah, meski gue bukan penulis bestseller *ngarep sampe nganga*, nyatanya gue kalo mood nulisnya udah muncul, entah senorak apapun itu materinya, kalo nggak buru-buru ditulis, ya ngeganjel aja gitu di pojokan. Ganjelan yang nggak asyik, coz gue malah nggak bisa kerja, yang ada pelampiasannya cuman maen pesbukan, jalan-jalan ke blog artis-artis, nyari-nyari siapa tau ada artis yang pinter *mayan banyak ternyata, blog-nya Dee yang paling gue suka*, sama sekali nggak produktif, dan ini ngeselin karena faktanya kerjaan lagi numpuk, dan yang nyumpel otak gue cuman adegan “May I?” itu. Sapiiiii…. :))

Seorang temen komentar, “Oh my God, you are not only a vedder freak, but I think you obsessed with him :p”. Hmm, iya ya, baru nonton performance-nya band-band yang covering PJ aja, gue udah kebawa-bawa sampe mimpi, apalagi nonton secara live? Huuuuu, noraaaaks hahahaha…..
Share/Bookmark

I am SAM



Satu Minggu sore yang adem sebenarnya sangat cocok untuk ngeberesin taman kecil di depan rumah. Tapi saya udah keburu ambil remote tipi, sekedar ngecheck ada acara bagus nggak sih sore2 gini. Koran lokal entah kenapa nggak ada fungsinya buat orang2 kayak saya yang nggak pernah apal acara tipi, ditambah udah jarang banget kebagian kompas minggu, huh. Stop di HBO, eeh ada Sean Penn. Film apaan nih. Look familiar tapi lupa apa judulnya. Saya ikutin dan ikutin sampe tau2 terisak2 sendiri. Sialan, ini film sedih banget sih *saya gitu loh, jarang bisa mewek :))* Hehehe yang pasti ini bukan romance yah, ih jijay banget dah kalo nangis cuman gara2 itu hahahaha, yang pasti ini film bagus, titik, dan worth it banget buat dibikin resensinya.

Film ini ternyata judulnya I am Sam. Itu juga saya taunya pas ending. Banyak faktor yang bikin film ini menarik. Dakota Fanning yang imut dan lucu juga pinter. Sean Penn yang aktingnya gilak top abis. Terus tau2 pas di top konflik, muncul soundtrack yang dinyanyiin sama Eddie Vedder *yup, meski jauh di mata, saya nggak akan pernah lupa sama bisikannya, suaranya huwahahahaha*. Sebenernya itu lagunya Beatles *semua soundtrack emang aslinya all Beatles tapi dinyanyiin various artist* judulnya Hide Your Love Away.

Tapi the main factor kenapa film ini bagus tentu saja adalah jalan ceritanya. Ia berkisah tentang perjuangan seorang Ayah (Sean Penn) yang punya kecerdasan di bawah rata2, hanya 75, merebut kembali putri kecilnya (Dakota Fanning) yang diambil oleh negara, karena mereka menganggap si Ayah dengan kecerdasan di bawah anak usia 7 tahun tidak memiliki kemampuan untuk mengasuh anak. Begitu sombongnya ya Amerika. Sampe ke warga negaranya aja nggak ada komprominya sama sekali. Itulah negara hukum, benci banget sebenernya sama istilah itu. Hukum mestinya terasa adil, membuat nyaman rakyat yang ada di dalamnya, bukannya terasa mengancam dan menyakitkan.

Anyway, meski sempat mengalami kemenangan2 kecil pada saat mengajukan saksi dan sebagainya, pada saat penentuan, si jaksa dengan licik mempertanyakan “Menurut anda, dari lubuk hati yang terdalam, apakah yang terbaik bagi Sam? Orangtua yang lebih baik diukur dari kemampuan mental maupun uang ataukah anda yang bahkan tidak bisa membantunya PR Matematika dan membelikannya meja belajar?” Tentu saja si Ayah meski dengan keterbatasannya masih bisa mengerti mana yang lebih baik jika diukur hanya dari hal-hal seperti itu. Ia pun menyerah.

Adegan perpisahannya itulah yang ngebuat mata tau2 berkaca2. Sialan hehehe. Soundtracknya cuman akustik gitu. Terus besoknya pas Ayahnya pengen jenguk, eeh ngeliat dari jauh kalo keliatannya si anak bahagia2 aja sama orangtua angkatnya, dia jadi berkecil hati dan pulang. Soundtrack di adegan ini ya Hide Your Love Away-nya Eddie Vedder lah. Suaranya pas banget dah menggambarkan suasana hati si Ayah, kedengaran murung, sedih, dan penuh tekad untuk menyembunyikan cintanya yang besar demi kebaikan anaknya, meski perasaan tekad itu akhirnya membunuhnya pelan-pelan, ia depresi berat. Ia berhenti dari pekerjaannya di Starbuck Coffee *tugasnya hanya membersihkan meja* dan memutuskan bersembunyi di kamarnya berhari-hari, merangkai sebanyak mungkin bintang2 dari kertas perak, berusaha sejauh mungkin dari realita.

Tapi jangan sedih dulu, ini film happy ending kok. Cinta akhirnya memang selalu menang. Sang Ayah bisa bangkit kembali berjuang merebut anaknya dengan cara yang tidak terduga siapapun yang punya kecerdasan di atas rata2. Ia hanya punya keinginan sederhana. Ia hanya ingin melihat Sam setiap hari. Ia berhasil memperoleh pekerjaan di Pizza Hut sebagai penyusun bumbu2, dan punya job sampingan sebagai pengasuh anjing2. Penghasilannya jadi lumayan besar dan berhasil membeli apartemen mungil di dekat rumah orangtua angkat Sam. Alhasil setiap malam Sam selalu pindah ingin tidur dekat dengan Ayahnya. Si Ayah selalu mengembalikan Sam setelah ia berhasil tidur. Setiap malam selalu begitu, hingga si ibu angkat menyerah. Ia tak akan pernah bisa mengalahkan pengaruh Ayah Sam dari Sam, apalagi itu ayah kandungnya sendiri. Ujung2nya sangat manis. Si ibu angkat tetaplah ibu angkat. Karena Ayah Sam memang pada kenyataannya sangat membutuhkan peran seorang ibu untuk pertumbuhan Sam. Dan Sam tetap tinggal bersama Ayahnya. So sweeeet.

Satu hal lain yang tak kalah penting dari film ini adalah satu2nya alasan saya membuat notes ini. Hehehe. Ribet yak. Ada satu saat di pengadilan, si Ayah ditanya jaksa, menurutnya apa yang terbaik yang dibutuhkan orangtua untuk mengasuh anaknya? Si Ayah berusaha mengingat2 dengan segala keterbatasan IQ-nya dan pandangan matanya yang tak bisa fokus *sangat mengharukan sebenarnya* dan secara amazing ia berkata :

“Eeeee…… actually I have plenty of time to think about it, and the answers that only cross in my mind are ….eeeee……. consistency, eeeee……… patient, eee…. listening them, and one more,  eeeeee….. have an ability to pretend listening them. That is what should be done by all parents for their children ……”

Hmmmfffhh!!! Konsistensi. Kesabaran. Mau mendengarkan. Hanya itu. Three magic items yang membuat saya sadar, selama ini saya kemana ajah sih. Sejak kapan pekerjaan jadi lebih penting dari Ozza dan Naula? Sejak kapan perhatian bagi saya itu cukup dengan ada di samping mereka *meski otak saya tetap sibuk dengan hal2 lain, ugh *, mendongengkan cerita sebelum tidur, membaca buku penghubung sekolah Ozza dan mengajarkan kembali apa2 yang dipelajarinya di sekolah, memandikan atau menyuapi mereka sekali2, membawa mereka jalan2, membelikan aneka mainan juga buku, lalu menemani mereka tidur? Dan saya bahkan melakukan semuanya itu dengan disiplin keras, sering berteriak, mengancam, menjewer :(( Terutama menghadapi Ozza. Streeeeessss……

Padahal betapa sederhana itu semua. Konsistensi. Kesabaran. Mau mendengarkan. Bahkan pura-pura mendengarkan. Dan betapa ajaibnya three magic items itu bekerja, masuk meracuni relung2 seorang emak2 yang stres. Setiap mereka berulah, berulang2 saya ucapin dalam hati, konsistensi, kesabaran dan mau mendengarkan. Anehnya saya jadi tenang dan siap menghadapi mereka. Itulah pertempuran sebenarnya, kan? :))

Oya kemaren ada artikel di koran lokal. Tentang orangtua seperti apakah anda?

Pertama, tipe orangtua hard bargainer. Persis saya, tapi nggak boleh ada teriak2nya, meski gitu efeknya anak tetap terkekang, segalanya diatur, kesian bener yak :(, abis kadang kemauan anak itu aneh2 dan susah direalisasikan kayaknya, masak Ozza pengen tiap Minggu datengin tuh kuda di kebun binatang Samarinda, hanya untuk ngasih dia makan, coz dia liat tuh kuda kurus banget kayak nggak dikasih makan hahaha, itu baru satu, masih banyak lageeee, capeeee deeeh!

Kedua, tipe conflict avoider. Ortu gak pernah marahin anak, ga pernah ada disiplin, semua terserah anak, efeknya jadi anak liar. Hmm… not good.

Ketiga, tipe accomodator. Segala kebutuhan anak dipenuhi, dimanja. Definitely, saya nggak mau jadi tipe kayak gini.

Terakhir, tipe collaborator. Segala sesuatunya didiskusikan dengan anak, efeknya anak memang jadi lebih dewasa dan mandiri, tapi keputusan untuk sesuatu yg penting jadi lambat.

Hmmmffft! Nggak ada yang bagus sih tipenya, hahaha, mungkin kombinasi dari semua tipe itulah yang terbaik. Tapi saya paling setuju sama kombinasi hard bargainer-collaborator. Mestinya saya sekali2 belajar jadi Collaborator, yak, meski belum bisa sepenuhnya ninggalin kebiasaan sebagai Hard Bargainer *mikir gaya patung thinker* :p
Share/Bookmark

The World Deadliest Woman


Dulu banget, seorang teman, Mocha, men-tagging saya dalam notes-nya, The World Deadliest Woman. Isinya sungguh menarik. Bercerita tentang seorang wanita Irak, Dr. Rihab Taha, seorang ilmuwan  yang bertugas memimpin program senjata biologi Irak, yang membuatnya menjadi ilmuwan paling berbahaya, hingga dijuluki sebagai Dr. Germ alias Dr. Kuman, dan dianggap sebagai ancaman terbesar setelah perang dingin oleh AS dan sekutunya, dan untuk itu ia harus dilenyapkan dengan taruhan apapun. Inilah salah satu alasan utama mengapa akhirnya AS perang dengan Irak.


Kisahnya berawal pada tahun 1979, saat ia berangkat ke Inggris untuk belajar di bidang plant toxins, tanaman beracun. Ia pun memperoleh gelar PhD di University of East Anglia di Norwich, dimana ia memdalami biologi secara serius dan terfokus pada bidang penularan penyakit. Dia sosok yang sederhana, tak banyak lagak. Sangat pendiam dan pemalu. Bahkan pengajarnya selama 4 tahun, Dr. John Turner, mantan pimpinan jurusan biologi di universitas tersebut mengatakan, “Dari semua mahasiswa yang pernah saya didik, dialah orang terakhir yang saya duga mampu melakukan hal mengerikan semacam itu.”

Sesudah Dr. Taha kembali ke Irak, Saddam Husein langsung memerintahkannya untuk memimpin program pengembangan senjata biologis. Seperti halnya bom atom, senjata ini tentunya sanggup membunuh jutaan manusia tanpa perlu pengetahuan teknis tinggi maupun biaya yang mahal.

Sesuai informasi yang disampaikan mantan pimpinan Tim Pengawas Senjata Biologi Irak di PBB, Richard Spretzel, menurut perkiraan PBB, Dr. Taha telah mengembangkan 8.400 liter anthrax dan berbagai senjata biologis lain. Ia membuat 19.000 liter botulinum, racun yang bisa membuat korbannya mati lemas dengan lidah membengkak. Ia memproduksi 2.000 liter aflatoxin, yang mampu menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan pertumbuhan kanker secara cepat. Ia juga mengembangkan ganggren, yang bisa membuat kulit manusia mencair dan mengelupas.

Tim Pengawas PBB pun menduga bahwa Dr. Taha sengaja menjadikan para tahanan Irak sebagai kelinci percobaan terhadap sejumlah senjata biologis buatannya, untuk mengamati efeknya jika digunakan dalam perang. Karena para tahanan tersebut banyak yang mengalami kebutaan, pendarahan mata, demam Crimen Congo, cacar unta dan penyakit-penyakit mengerikan lainnya, dimana akhirnya mereka mati perlahan-lahan akibat kehilangan darah dari luka-luka terbuka di kulitnya.

Sementara pemerintah Irak sendiri tidak mau diajak bekerja sama. Bahkan setelah diajukan enam laporan berbeda soal bukti-bukti adanya program pengembangan senjata biologis di negaranya, Irak membantah semuanya. Setiap Tim Pengawas Senjata Biologis Irak melakukan penggerebekan di sejumlah tempat yang diduga sebagai laboratoriumnya, setiap kali pula mereka hanya menemukan gudang kosong yang sepertinya baru dibersihkan secara terburu-buru, dengan dokumen-dokumen yang masih terbakar di tempat sampah.

Mengapa Dr. Taha selalu selangkah di depan Tim Pengawas? Karena menurut rumor, ia adalah istri simpanan Letjen Amer Rashid, pejabat militer Irak yang ditugaskan bekerja sama dengan Tim Pengawas. Tak heran bila selama bertahun-tahun Tim Pengawas PBB tak pernah berhasil menemukan bukti keberadaan senjata biologis di Irak.

Bagi saya pribadi, entah apakah cerita ini benar atau tidak. Ada beberapa yang janggal. Pertama, tidak diceritakan bagaimana caranya PBB bisa memperkirakan senjata biologis apa saja yang dikembangkan oleh Dr. Rihab Taha, hingga memastikan seberapa banyak senjata tersebut telah dibuat. Kedua, semuanya hanya berdasarkan perkiraan. Bukti keberadaan senjata biologis tersebut pun tak pernah ditemukan. Ketiga ada sejumlah paragraf yang menceritakan bahwa Tim PBB sempat mengkonfrontasi Dr. Taha dengan bukti-bukti yang kuat dan mengatakan bahwa Dr. Taha bangga dengan apa yang dilakukannya, bahwa ia tak ragu menampilkan diri sebagai otak di balik senjata biologis Irak. Dengan begitu, seharusnya Dr. Taha bisa dikatakan sudah mengakui bahwa ia yang bertanggung jawab. Mengapa dari pengakuan tersebut tidak bisa dikembangkan menuju pembuktian keberadaan senjatanya? Aneh. Dan terakhir, jika memang senjata biologis itu ada, mengapa saat perang Irak-AS terjadi dan diakhiri tertangkapnya Saddam Husein, berbagai senjata biologis tersebut tak pernah digunakan?

Di sisi lain, jika cerita ini benar adanya, bahwa memang ada seorang Dr. Taha yang sanggup membuat berbagai senjata biologis tersebut, dimana dalam notesnya, Mocha mengangkat jempolnya untuk seorang wanita yang dianggap paling berbahaya dan sanggup membuat AS dan Israel sekutunya tak berdaya, karena ia sangat jenius, maka saya tak begitu setuju dengannya. Saya pun langsung menulis komentar bahwa itulah devil sebenarnya, seorang ibu yang sanggup membuat racun mematikan buat bayi2 sama sekali bukanlah tokoh yang layak dikagumi. Nah, satu hal yang akhirnya saya tertarik untuk membahasnya lagi di sini adalah komentar temannya yang lain, berikut saya kutip di sini:

“Mocha.. notenya sungguh menarik.. :) Menghadapi perkembangan persenjataan, bagaimana sikap kaum Muslim, terutama dalam peperangannya melawan musuh? Apakah mereka dibolehkan menggunakan senjata-senjata tersebut? Allah Swt. telah memerintahkan kita—kaum Muslim—untuk berjihad fi sabilillah. Itu berarti kita wajib melakukan peperangan melawan musuh-musuh kita yang kafir/musyrik dengan menggunakan persenjataan. Sebab, jihad bermakna berperang secara fisik/militer; senjata melawan senjata. Allah Swt. tidak membatasi/menentukan jenis persenjataan tersebut. Jadi, semua jenis senjata yang dapat digunakan untuk berjihad fi sabilillah melawan negara-negara kafir/musyrik dibolehkan. Alasannya, karena nash-nash syariat tidak menentukan atau membatasi jenis persenjataan maupun sarana tertentu yang digunakan untuk memerangi musuh Allah Swt.”

Well well well. Komentar yang sungguh berbahaya, ya kan? Seorang perempuan, memiliki pandangan seperti ini di tengah derasnya trauma serangan teroris dimana-mana. Apakah ia tidak lagi menggunakan logika dan hatinya, hingga sanggup menelan bulat2 semua yang diberikan padanya? Oke, saya bukan ahli agama. Jadi saya tidak mampu untuk mendebatnya dengan nash-nash Al-Qur’an, untuk menyatakan isi kepala saya. Tapi yang saya tahu pasti, Al-Qur’an juga mengajarkan tentang perdamaian, mengajarkan bahwa dalam berperang, wanita dan anak-anak tidak boleh dijadikan korban. Al-Qur’an mengajarkan bagaimana bertindak sportif, menurut saya. Jadi kalau mereka bersenjatakan modern, mengapa negara muslim tidak bisa mengusahakan yang sama? Tidak dengan berlaku curang membuat senjata biologis yang murah tapi sangat mematikan, tak hanya bagi prajurit yang berperang tapi juga wanita dan anak-anak tak bersalah. Kapasitas saya memang tidak layak, baik untuk membahas perang AS-Irak maupun Israel-Palestina. Tapi menurut logika cetek saya, dalam kasus perang AS-Irak, sudah jadi rahasia umum bahwa AS bertujuan menguasai minyak Irak, dengan demikian berusaha melumpuhkan Irak bagaimanapun caranya, termasuk isu senjata biologis tadi. Jadi ini adalah penjajahan di abad modern. Seharusnya ini bisa dicegah dengan tindakan tegas PBB. Mana yang salah, ditindak, dan yang benar dibela. Begitu juga kasus Israel-Palestina. Karena PBB sama sekali tidak membantu, sekarang sudah saatnya negara-negara muslim bergerak tidak hanya membicarakan bisnis minyaknya dalam lingkup APEC, atau saling berperang sendiri, tapi benar-benar duduk bersama dan serius memikirkan semua masalah ini, jika mereka memang benar peduli dengan perintah Allah Swt akan keharusan jihad fisabilillah. Karena hanya dengan bersatulah kalian bisa menang. Bagaimana jika kalian bekerja sama dalam bidang pengembangan senjata hingga semodern mereka? Atau bahkan bidang lainnya? Dan untuk kelompok teroris, hanya dengan menjadi pengecut dan menanam bom dimana-mana kalian menyebutnya jihad? Tak bisakah kalian bergerak ke arah yang lebih positif dan berani? Well, jika kalian memang lebih suka diam, tak peduli dan pengecut, tak heran jika AS/Israel yang katanya musuh kalian itu menang dimanapun mereka berada. Kalian bahkan tidak bisa menang atas usaha sendiri, melainkan hanya bisa berharap Imam Mahdi akan turun dan membuat dunia menjadi adil. Ckckck.
Share/Bookmark