Wednesday, May 18, 2011

I Do Have a Paranoid Friend


“Gue yang terima kasih lagi, Mel. Gue sangat menikmatinya. Lo udah sempet2in dateng ke Jakarta cuman buat drama ini. Btw, acting lo nggak ada bagus-bagusnya.”


Short message ini datang Jumat siang dari seorang teman. Dulu kami lumayan dekat, sering bercerita ini itu, via email or text messages, meski somehow saya nggak pernah bisa merasa nyaman untuk bertelepon ria dengannya, padahal saya lebih suka menelepon coz more expressive I feel.

Sampai suatu hari dia menemukan kejanggalan2 dalam hidupnya dan berkesimpulan bahwa handphone-nya di-hijack. Tersangkanya tentu saja keluarganya. Saya jadi tempat curhatnya selama berminggu2 dan saya nggak hanya bersikap seperti tempat sampah lainnya yang hanya sabar listening. Well, I have life too, so kalau mau curhat sama saya, welcome saja, but it better be NOT the same problem, coz I think if you have problems, then FIND solutions!! Not just complaining, complaining, complaining, aaarrrggghh….!!!

So I give her solutions. Mulai dari ganti nomor hape, ganti hape sekalian, atau cari bukti shahih lainnya seperti yang persis dia lakukan untuk mencari bukti bahwa mantan suaminya sering berhubungan dengan perempuan lain. Atau menge-check rekening telepon, membuntuti ibu atau ayah atau adiknya yang menjadi tersangka utama. Atau malah pergi dari semuanya, cari kost sendiri, cari pekerjaan sendiri. Free to decide. Hundred ways to move on.

Ujung-ujungnya malah saya yang jadi tertuduh utama. Wuakakak. Menurutnya saya adalah otak di balik semuanya. Hahaha! I have two kids, busy enough at work, busy enough at weekends, and busy enough at my own dreams, and if I’ve got a time I choose to be a genious criminal person wearing mask and have a gun that look like a phone to coordinate everything in someone’s life? NO, thank you!      

I don’t understand these people. Paranoid people. Mereka itu pinter, jenius, but somehow logikanya nggak tahu terbang kemana. Mereka begitu yakin bahwa segala kejadian dan peristiwa yang di depan matanya adalah drama, sementara mereka nggak mau mencari bukti shahihnya. Mereka malah sibuk menikmatinya, hahaha! See a short message back at front? She’s really enjoying it. Berada dalam dunia prasangka yang hanya dimilikinya sendiri. Dikasih tahu sebenarnya malah ngetawain, dikasih tahu dia itu paranoid malah senyum2, dikasih tau dia harus check ke psikiater malah cuek bebek.

Mestinya bisa sih saya lebih peduli daripada itu. Saya bisa hubungi keluarganya, mantan suaminya. Bertanya kenapa, ada apa, kalau mereka care ya apa yang bisa mereka lakukan untuk dia, bawa paksa ke psikiater or anything. Tapi waduh, sorry, saya nggak sepeduli itu, saya juga yakin, seyakin-yakinnya, kalau saya melibatkan diri, dia akan habis2an percaya saya adalah tuhan. Huahahaha!

I believe patient does have limit. Saya orang yang lumayan antisosial, jadi berteman bagi saya nothing to loose. Mau sendirian oke, mau temenan juga oke. Tulus-tulus saja tapi tetap ada syarat. Saya mau berteman dengan siapa saja yang punya nilai2. Nilai ketulusan, saling menghargai, tidak makan tulang kawan, dan saling percaya, yah, persis saling percaya-nya sepasang suami istri mungkin. Buat apa berteman dengan teman yang nggak percaya sama kamu? Itu omong kosong bagi saya.

So I’ve deleted her number and  removed her from my facebook. A week after, she inboxed me, asking why sambil ngejelasin sejumah drama lain di keluarganya dan meng-add kembali saya as a friend. Ha-ha-ha. Well, I still have a heart anyway, so I gave her little explanation why, including sejumlah syarat. Saya akan berteman dengannya lagi jika dia mau ke psikiater dan kembali percaya bahwa saya temannya. She didn’t send any response. I think, go to hell, it’s up to her.

Saya pikir semua sudah selesai. Nggak tahunya, hahaha! Hari ini saya kembali menerima text messages darinya. Dia bercerita tentang drama lain yang dilakukan keluarganya, tentang mayat yang diformalin atau apaan gitu, wuakakakak…!!! *Mungkin seluruh jaringan keluarganya gilak semua kali ya?* Dia juga bercerita kalau dia ditelepon seorang cowok, mantan teman sekerjanya dulu, dan dia curiga kenapa tau2 si cowok telepon karena si cowok itu faktanya adalah pemalu, pasti ada yang menyuruh cowok itu telepon, and guess what??! Wuahahahahahaha! Yup, saya tetap jadi tersangkanya!!

Hehehehe, nasiiiib…. nasiiiib….. padahal kalau dia mau bener nih otaknya, saya bisa hubungi mantan teman sekerjanya itu darimana coba? Mau salto tujuh kali sambil nyelidikin bola dunia juga nggak bakal saya tahu itu cowok. Anyway, saya kali ini sangat menikmatinya. Saya bahkan akan membuat serial posting tentang ini. You know, drama hillarious apalagi sih yang ada di kepalanya dan kepala keluarganya? Mungkin saya jahat, tapi saya punya misi. Saya tahu dia pasti membaca blog ini sekali-sekali. Yaaah, mungkin saja kalau dia ngebaca postingan tentang dia, dia bakal punya willing untuk berobat. Atau dia malah happy ada yang nulis perjalanan hidupnya? Jiakakak! Terserahlah, yang pasti saya yang terima kasih, karena problem dia saya jadi rajin update blog. Hihihi.  

P.S : Saya sempat mencari informasi tentang penderita paranoid via wikipedia. Intinya itu gangguan mental yang ditandai kecurigaan yang tidak rasional/logis. Indikasinya macam2, seperti adanya halusinasi, gejala motorik yang aneh dan khas pada gerakan tangan dan cara berjalan, gangguan emosi, penarikan sosial (tidak menyukai orang lain karena menganggap orang lain tidak menyukai dirinya), dan terakhir adanya delusi atau waham/keyakinan palsu yang dipertahankan. Delusi ini dibagi lagi menjadi tiga yaitu delusion of persecution: yakin bahwa ada orang atau kelompok tertentu yang sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya, delusion of grandeur: yakin bahwa dirinya memiliki kelebihan/kekuatan/jadi orang penting, dan delusion of influence: yakin bahwa kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya.

Hmm…. sepertinya si teman ini cocok dengan indikasi terakhir, delusion of influence. Oke kita baca lagi informasi selanjutnya. Menurut wikipedia, diduga penyebab  gangguan kepribadian ini adalah respon pertahanan psikologis (mekanisme pertahanan diri) yang berlebihan terhadap berbagai stress atau konflik terhadap egonya dan biasanya sudah terbentuk sejak usia muda. Para ahli psikodinamika menyatakan bahwa ada pengaruh genetika dalam gangguan ini, jadi pola-pola interaksi awal dengan orang tua perlu ditelusuri kembali.

Hmm… saya jadi kasihan sama dia. Hidupnya memang tak begitu berjalan mulus. Dia produk broken home (meski mampu menyelesaikan sekolahnya dengan sempurna), pernikahannya hancur di tengah jalan, dan kariernya pun tersendat-sendat. Tapi ada juga beberapa teman saya yang produk broken home, hidupnya lebih hancur daripada dia tapi bisa bangkit dan hidup normal, lurus2 saja. That’s a point of life, kan?

Jadi gimana caranya membantu menyembuhkan penderita paranoid ini? Ternyata sangat sulit, karena penderita tidak menyadari adanya gangguan pada dirinya dan merasa tidak memerlukan bantuan dari terapist. Hanya beberapa saja dari penderita yang mau berobat atas kemauannya sendiri. Seringnya penderita yang sedang diobati tidak percaya dan menolak terapist-nya. Terapi obat umumnya tidak efektif, lebih baik dilakukan terapi perilaku. Caranya dengan menelusuri kembali masa lalu “kemarahan” penderita sebagai dasar menciptakan hubungan interpersonal yang baik, kemudian membantu mengontrol kecemasan penderita dan memperbaiki kemampuan hubungan interpersonalnya.

Betul kan? Kalau keluarganya hanya sibuk bikin drama gila2an, satu-satunya cara adalah berobat atas kemauannya sendiri. C’mon, girl, c’est la vie, hidup ini indah, dan kamu menyia-nyiakan menit2 hidupmu hanya untuk yang beginian? Get real, get alive, oke?

Share/Bookmark

2 comments:

mblegedest said...

wah sakit tuh cewek! ati2 hunny...

Meli Vedder said...

eh tumben maen kesini,ayah :p tenang dear, everything's under control hehehe