Monday, August 9, 2010

Miss Jinjing


Di Jakarta, jika ada diskon Bottega Venetta di Senayan City, meski harganya sampai 40 juta per biji, jualan tetap aja laris manis tanjung kimpul. Jika dulu pembelinya hanya dari Jakarta, kini didominasi oleh orang-orang berlogat Jawa Timur, Medan dan Palembang. Cukup banyak remaja Indonesia, SMU atau kuliahan, sering weekend ke Singapura hanya untuk belanja. Mereka selalu bergerombol dan masing-masing selalu membeli tak hanya 1 item tapi banyak. Seorang Beauty Assistant di butik terkenal Amrik mampu menyebut dengan fasih nama-nama pelanggan Indonesia-nya yang umumnya pejabat atau mantan pejabat, beserta nama-nama keluarganya. Butik Aigner di Jerman pernah dibuat heboh oleh seorang Nyonya mantan pejabat Indonesia yang membeli 80 tas hanya untuk ‘oleh-oleh keluarga di kampung’ dimana harga paling murah tas di butik tersebut senilai 6 juta rupiah, maka si Nyonya menghabiskan sekitar 640 juta rupiah hanya untuk oleh-oleh. Belum lagi sebelumnya si Nyonya telah membeli sebanyak 40 tas Hermes. Di kamar pribadi seorang Nyokap Indonesia, yang rumahnya bigos –oh big sekali-, terpajang lemari khusus tas-tas koleksinya, sepanjang 10 meter, tinggi 3 meter, sebanyak 5 tingkat. Isinya berbagai tas merek ternama, paling sedikit 200 tas. Semua warna di semua model, ada. Dari yang klasik sampai limited edition, she’s got all. Hebatnya lagi, semua tas-tas mewah itu tidak pernah dipakai, hanya dipandangi kagum, dilap-lap, dielus-elus. Lainnya, menurut pengakuan Sales Attendant di Hermes, salah satu kolektor terlengkap tas Hermes adalah seorang ibu mantan pejabat setingkat menteri di Indonesia, sedikitnya beliau memiliki 30 pcs, sementara harga tasnya bisa 50 juta/pcs. Jadi nilai investasinya mencapai 1,5 milyar! Ckckckck…



Inilah yang dipaparkan Mrs Amelia Masniari dalam bukunya, Miss Jinjing – Belanja Sampai Mati. Saya meminjamnya dari seorang teman, Menik, Sabtu kemarin. Judulnya cukup unik. Begitu juga covernya. Seorang perempuan yang tengah ngelirik ke atas dengan timbunan bermacam tas belanja di sekelilingnya, yang jika timbunan tas itu dibuka, masih terdapat aneka tas belanja di baliknya. Saya pikir buku ini mungkin akan selucu Becky Blomwood, si shopaholic dari London karakter khayalan my favorite writer, Sophie Kinsella. Nyatanya sama sekali tidak selucu dan semenarik Blomwood, karena buku ini bahkan bukanlah novel, isinya hanya berbagai pengalaman belanja seorang Amelia dan teman-temannya. Bagaimana orang Indonesia memang benar-benar gila belanja. Yang tidak hanya eksis di kawasan belanja Asia, tapi juga Amrik dan Eropa. Dan inilah yang membuat saya terheran-heran sampai terjijik-jijik sendiri. Maaf. Bukannya saya anti-kemapanan, saya toh sangat menikmati kenyamanan, tapi dalam level berbeda. 6 juta rupiah bagi saya lebih bagus dipake buat travelling ke luar negeri, hunting konsernya Pearl Jam. 50 juta rupiah bagi saya lebih baik untuk memulai bisnis. 640 juta rupiah bagi saya lebih potensial diinvestasikan ke rumah atau tanah, dan 1,5 milyar? Hmm… mungkin saya hanya menyimpannya di bank, sampai ada kebutuhan yang masuk akal memerlukannya.

Oke, level saya mungkin baru mencapai kebutuhan sekunder, dan orang-orang Indonesia gila belanja itu mungkin sudah mencapai level tersier, atau mungkin beberapa belum karena mereka memang umumnya di luar kesadaran saat melihat tulisan SALE, sementara begitu buanyak orang Indonesia lainnya masih merangkak untuk mencapai level primer, yaitu makan apa hari ini, jadi patut dimaklumi segila apapun tingkah orang-orang yang diceritakan dalam buku ini, apalagi itu uang-uang mereka juga, ngapain diambil ribet, ya kan? Kalo saya yang ditanya begitu, pastinya saya jawab, ya enggaklah, ini penting dibikin polemik. Nilai investasi katanya. Bah! Memangnya bener-bener ada orang gila barang mewah yang rela melepas barang-barang pujaannya suatu hari nanti, bahkan setelah barang-barang itu nggak muat lagi atau saat dia bangkrut? Hmm mungkinkah orang-orang ini bangkrut? Kayaknya dengan lakunya kapitalisme, yang ada juga orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin. Mungkin hanya Becky Blomwood yang akan melakukannya, menjualnya saat bangkrut, itu juga karena Becky bukanlah orang kaya, dia hanya orang bergaji biasa-biasa aja yang juga gila belanja dan tersesat dalam penggunaan kartu kredit, daaan ia tidak nyata. Sementara orang-orang kaya yang gila belanja barang mewah ini? Nggak mungkin barang-barang itu dijual lagi. Paling hanya dijadikan pajangan di rumahnya, dibikin lemari khusus, mungkin lima tingkat, hanya dipandangi, dilap-lap, dielus-elus. Mestinya orang-orang Indonesia gila barang-barang mewah itu bisa disadarkan, entah gimana caranya, mungkin dengan menaikkan pajak barang mewah? Meski Indonesia sudah merupakan negara dengan pajak barang mewah tertinggi di dunia, saya sangat setuju jika harganya dinaikkan lagi. Sori, guys, maybe I agree with communist, tapi saya lebih mengagumi Gandhi dengan ajakan hidup sederhana dan cinta buatan negeri sendirinya.

Si penulis sendiri, Mrs Amelia Masniari, berasal dari keluarga sangat berkecukupan, nenek buyutnya seorang anak residen di Jawa, ayahnya seorang dokter bedah, ia seorang lulusan S2 UI, dan suaminya, dia tidak sekalipun menceritakan pekerjaannya, tapi ia sering bepergian jauh dan lama, dan mampu menghidupinya dengan sering berjalan-jalan keluar negeri serta mengunjungi SALE dimanapun, Eropa, Amrik, dan yang paling sering Asia. Ia memuja sepatu, ia punya perancang favorit, Edo Hutabarat, Ghea dan Oscar, sementara ibu dan saudara perempuannya lebih suka baju rancangan Biyan. Jadi sebagian besar baju-baju dalam lemarinya adalah hasil tangan para perancang terkenal Indonesia tersebut. Favoritnya warna hijau dan anehnya, ia anti kartu kredit. Ia memiliki tiga anak kecil –cowok- yang cukup sering dibawanya shopping ke luar negeri dan punya blog jauh sebelum bukunya terbit dengan judul sama Belanja Sampai Mati.

Bagi anda yang identitasnya shopper sejati, buku ini jelas untuk anda. Selain cerita-cerita di atas, ia juga membahas jadwal musim sale di seluruh dunia, bagaimana membedakan barang imitasi dengan aslinya, tempat penyelundupan berlian di Jakarta, warehouse tas premium palsu, berbagai tips sampai tips shopping di Guangzhou, China, membahas kehidupan kaum gay, karena notabene ia hidup dekat dengan mereka, serta sejumlah jalan keluar berongkos ribuan dolar gimana caranya agar tetap disayang suami.

Tapi nyatanya ada juga yang saya suka dalam buku ini. Ia sempat menyinggung bisnis garmen China dan kebanggaannya akan karya Indonesia . Delapan tahun lalu, saat garmen/tekstil China belum menguasai market dunia, garmen Indonesia ternyata jadi primadona buyer asing karena kehalusan pembuatannya. Tahun 1999-2003, yaitu saat krisis moneter, garmen Indonesia sempat nampang di departemen2 store terkenal Amrik, Paris, Amsterdam, Milan, dll. Tapi di tahun 2003 kita nyaris tidak bisa lagi berkompetisi dengan China dalam hal harga, konsistensi dan produk massal. Jadi satu persatu order tersebut pindah ke tangan China. Di Mangga Dua bursa baju anak-anak bahkan 100% buatan China, kecuali baju muslim. Industri baju kelas menengah ke bawah sudah mati dan tidak sanggup bersaing dengan China. Berbeda halnya dengan sandal atau sepatu, buatan Indonesia lebih enak dipakai, meski harga yang paling murah sekalipun. Selain merajai industri garmen, China juga menguasai industri aksesoris – semua aksesoris jam tangan dan kacamata di Mangga Dua adalah buatan China – juga tas-tas mewah buatan desainer dunia dengan cara membajaknya. Mereka membeli tas-tas tersebut dari desainer aslinya, mempretelinya satu-satu dan membuat copy-paste-nya. Sering juga desainer-desainer top Eropa menyewa pengrajin China, terutama Guangzhou, karena upah mereka jauh lebih murah dan hasil kerjanya pun halus. Mereka dikontrak per musim, dan saat mereka tidak sedang dikontrak, mereka membuat tembakannya. Jenius, kan? Hahahaha.  


P.S : Ada satu lagi. Ceritanya dia pelanggan setia La Mer Mousterizer Gel Cream (katanya ini pelembab terbaik di dunia, harganya USD 230). Satu kali dia sempat pacaran dengan seorang pilot Qantas, dan saat si pilot membelikannya, si pilot nanya2 kenapa itu cream kok bisa semahal itu, saat itu juga si Mrs Amelia ngerasa ilfil dan memutuskannya. Laki-laki kok pelit banget, katanya. Huahahaha. Kasihan juga ya cewek2 manja itu, berpikir bahwa hidup sejatinya adalah La Mer Mouisterizer dan Hermes, c’mon girls, wake up! 

Share/Bookmark

2 comments:

ofi said...

wew.. gelo bener nih si mbak jinjing-amelia yak.. ckckck..
wlpn blm pernah baca bukunya tp dah kebayang enek-nya.. :D

dan tnyata dah ada bbrp serinya ya(Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di China, Miss Jinjing Belanja Sampai Mati di Tokyo, Miss Jinjing Pantang Mati Gaya, Miss Jinjing Rumpi Sampai Pagi).. pfiuh

Meli Vedder said...

wuakaka banyak bener serialnya yak, hihihi. oya fi, sempet lho dia muncul di kick andy, hahaha si andy noya-nya gak terkesan sama sekali sementara dia ceritanya sangat menggebu2, wkwkwk very entertaining..