Showing posts with label resensi buku. Show all posts
Showing posts with label resensi buku. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

The Little Mermaid

Ada yang masih inget cerita anak-anak Little Mermaid? Hehehe jujur, gue nggak pernah tau cerita ini coz nggak tertarik cerita model beginian, sampe beberapa hari yang lalu Naula memilih buku ini di Gramedia, sementara Ozza tetep dengan style-nya yang berbeda, memilih buku cerita Dinosaurus yang ada sticker menyala dalam gelapnya, hahaha! Gue ceritain sedikit ya tentang Little Mermaid ini, nanti baru gue bahas alasannya kenapa gue mesti sharing ini sama kalian *as usual, I believe every story needs reason :)*

Sumber foto : www.travel-earth.com/denmark

Ceritanya alkisah di bawah laut hiduplah raja laut dan keenam putrinya yang berupa putri duyung. Fokus cerita ini ya si putri duyung yang bungsu. Tradisinya jika mereka sudah menginjak umur lima belas tahun, mereka diijinkan melihat dunia di atas laut. Nah, setelah si bungsu berulangtahun yang ke-15, saat ia melihat dunia di atas laut, ia bertemu kapal yang tengah ramai merayakan ulang tahun seorang pangeran. Ia pun mendekati kapal dan terpesona menatap pangeran yang sedang berdiri di atas geladak. Sebentar kemudian badai datang dan memporak-porandakan semuanya. Kapal tenggelam, si putri duyung segera mencari pangeran di gelapnya lautan dan menyelamatkannya. Semalaman ia mengapung dengan bantuan ombak sambil memeluk pangeran, hingga paginya badai berhenti dan dibawanya pangeran ke tepi pantai.

Putri duyung segera bersembunyi saat ada seorang wanita berjalan mendekat dari kejauhan. Pangeran terbangun dan mengira si wanita itulah penyelamatnya. Sang putri menjadi sangat sedih. Ia tidak bisa menghampiri pangeran dengan tubuh putri duyungnya, dan hanya bisa berteriak dalam hati. Sejak saat itu ia terus memikirkan pangeran. Setiap hari ia mendatangi tepi pantai tempat ia menyelamatkan pangeran, tapi ia tak pernah bertemu pangeran lagi. Sang putri pun sakit. Karena khawatir, kakak-kakaknya membawanya ke istana tempat pangeran tinggal.

Hingga suatu hari sang putri duyung ingin menjadi manusia dan hidup di atas laut. Ia pun menemui penyihir yang rumahnya ada di bagian laut paling dalam dan gelap. Penyihir memberinya obat agar bisa menjadi manusia, tapi ia harus menyerahkan suaranya yang indah. Dan jika ia tak berhasil menikahi pangeran, ia akan berubah menjadi buih. Sang putri menyanggupinya asalkan ia bisa bertemu pangeran.

Putri duyung pun menuju istana pangeran dan meminum obat itu di tangga istana. Ia lalu pingsan karena rasa terbakar di sekujur tubuhnya. Saat ia terbangun, ternyata pangeranlah yang menemukannya. Pangeran bertanya siapakah nama dan darimana ia berasal. Tapi putri duyung tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena telah memberikan suaranya ke penyihir. Ia hanya bisa memandang pangeran dengan tatapan sedih.

Akhirnya pangeran merawat putri duyung seperti adiknya sendiri. Putri duyung sangat bahagia. Lalu suatu hari, pangeran pergi berkunjung ke negeri tetangga ditemani sang putri. Pangeran terkejut ketika melihat putri negeri tetangga. Ternyata ia adalah wanita yang menyelamatkannya di pantai. Tanpa ragu pangeran segera melamarnya dan menggelar pesta pernikahan yang sangat indah di kapal besar.

Putri duyung sangat sedih. Ia tidak bisa memberitahu pangeran karena ia tak punya suara. Malamnya ia berdiri di atas geladak dan menangis karena fajar nanti ia akan menjadi buih. Pada saat itu kakak-kakaknya muncul dari dalam laut. Rambut mereka yang indah ternyata telah dipotong pendek. Mereka mendapatkan pisau dari penyihir dan membayarnya dengan rambut mereka. Mereka menyuruh sang putri menusuk dada pangeran sebelum matahari terbit supaya ia tetap hidup.

Putri duyung mencengkeram pisau itu dan menyelinap ke dalam kamar pangeran. Saat ia mengangkat tinggi pisaunya, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa menusuk pangeran yang ia cintai. Putri pun melempar pisau itu ke laut, memejamkan matanya dan melemparkan dirinya ke laut yang dalam. Tubuhnya lalu berubah menjadi buih-buih yang gemerlapan.

Saat para peri datang untuk membawanya ke surga, putri duyung terbang seakan-akan memiliki sayap. Ternyata ia berubah menjadi peri angin karena ia melakukan banyak kebajikan. Di atas kapal, pangeran dan pengantinnya mencari-cari putri duyung dengan cemas. Putri duyung membelai pangeran dan mencium dahi sang pengantin wanita tanpa ada yang menyadarinya. Lalu terbang ke awan putih bersama peri angin yang lain. “Berbahagialah, Pangeranku…….”

Huhuhu, sedih banget ya ternyata. Gue udah tau sih kalo si Hans Christian Andersen ini pasti kalo bikin cerita ya sedih, tapi nggak nyangka aja setragis ini. Gue udah nyesel aja beli bukunya dan agak-agak was-was nyeritain kisah ironis yang indah ini untuk anak-anak sekecil Ozza Naula. Sebelumnya gue jarang mengkonsumsi mereka cerita-cerita sad ending. Kira-kira gimana respon mereka ya?

Hehehe, dasar emak-emak paranoid. Norak. Padahal sebenarnya kisah itu mungkin bagus untuk anak-anak supaya mereka ngerti realita hidup. Akhirnya untuk mengimbangi kesedihannya, gue lebih bersemangat nyeritain bahwa patung putri duyung bener-bener ada di pelabuhan Kopenhagen Denmark sana, yang dibikin untuk menghormati si penulisnya, si mbah buyut Hans. Juga cerita bagaimana hebatnya mbah Hans jadi penulis terkenal meski orangtuanya cuma jadi pembuat sepatu yang miskin.

Ujung-ujungnya, Naula merespon dengan selalu membawa bukunya kemana-mana, juga saat jalan-jalan, memproklamirkan bahwa itu buku favoritnya seumur hidup *jiah, baru juga umur tiga tahun, haha!* Sementara Ozza, nah inilah alasan gue sharing dengan kalian. Respon Ozza itulah yang bikin gue terhenyak sesaat. Yah, semacam henyakan emak-emak lainnya yang diperoleh saat anak-anaknya kadang membuat ulah tak terduga, tak disangka, tapi membuat bangga.

Ozza tipikal anak yang nggak gitu suka cerita romantis atau sedih. Dia sangat suka cerita lucu dan petualangan. Tokoh-tokoh favoritnya adalah Shrek, George of The Jungle, Shaggy Scooby Doo, Peterpan, Nathalie *anak perempuan bandel yang mimpi jadi backpacker dan punya hobi sadis 'menyiksa' adiknya dengan berbagai cara, gue nyeseeellll banget beli buku impor Amerika ini*, Bernard Bear, Paddle Pop, Upin Ipin, Ben10, Diego temennya Dora *bukan Dora-nya lho*, bahkan si lemah Hickup di film How to Train Your Dragon. Sangat jauh berbeda dengan pilihan Naula yang sangat normal dengan Barney, Barbie atau Rapunzel-nya. Hahaha!

Tapi Ozza juga tumbuh menjadi anak yang sangat sensitif. Dia lebih mudah sedih, nangis dan pemurung untuk hal-hal remeh dibanding Naula. Ozza bisa memikirkan satu kisah sedih selama berhari-hari dan membahasnya terus, intinya kenapa sih mesti ada cerita sesedih itu? Kenapa nggak ada yang melakukan sesuatu supaya cerita itu nggak sedih lagi. Ini pernah terjadi saat ia baru tahu cerita Peterpan sebenarnya. Sebelumnya ia hanya mengenal kisah Peterpan dan Jane, anaknya Wendy, versi Peterpan yang kedua, yang lebih happy ending. Ozza nggak habis pikir kenapa Peterpan nggak mau tinggal sama Wendy seperti anak-anak Lostboys lainnya, tapi lebih memilih kesepian bersama Tinkerbell di Neverland sana. Respon inilah yang gue khawatir bakal terjadi setelah gue nyeritain Little Mermaid untuk mereka.

Jadi bagaimana Ozza merespon ini kemudian? Tak disangka dia hanya mengangguk-angguk sambil terus meminum susunya. Juga tak ada pertanyaan-pertanyaan memusingkan dan menyedihkan keesokan harinya. I was really wondering why. Tapi gue sabar menunggu sampe segala sesuatunya jelas. Dan itu ternyata terjawab pagi ini, dua hari kemudian.

Setiap pagi tiap memandikan mereka satu persatu, gue biasa bertanya apa mimpi mereka semalam. Khususnya Ozza karena ia begitu sensitif, supaya gue bisa tahu apa yang terjadi di alam bawah sadarnya. Nah, pagi ini ternyata Ozza nggak menunggu saatnya mandi untuk bercerita apa mimpinya semalam. Sesaat setelah bangun, ia langsung nyari gue dan berteriak gembira :

“Bu! Aku tadi malam mimpi si putri duyung, lho! Aku ada di istana dan aku bilang sama pangeran, kalo sebenarnya yang nyelamatin pangeran itu si putri duyung. Wah pangeran akhirnya menikah sama putri duyung! Putri duyung sangat bahagia! Pokoknya bu, meski di buku dia sangat sedih, dia bisa bahagia di mimpi aku! Putri duyung boleh tinggal di mimpi aku aja, nggak usah di buku!”

Gue terhenyak. Mau nangis, malu. Gue cuma bisa bilang terkagum-kagum, “Kakak Ozza hebat sekali, mau mikirin nasibnya putri duyung. Makasih ya Kakak Ozza, pasti putri duyung kalo tau, dia pilih tinggal di mimpinya Ozza aja daripada di buku”. Gue peluk dia bangga sekali, ternyata dia sudah belajar tidak hanya di tahap mau memikirkan nasib orang lain, tapi juga sudah bisa menemukan solusinya meski sangatlah sederhana. Sama bangganya gue saat ia bercerita beberapa minggu sebelumnya bahwa ia sudah bisa berteman baik dengan Sinta, teman TK-nya yang sangat pemalu dan tidak mau bermain dengan semua orang. Sinta adalah anak baru, dan Ozza memperhatikan bahwa ia sebenarnya sangat kesepian, jadi setiap kali dia ingat, Ozza berusaha mengajaknya bermain meski Sinta tetap diam. Sampe suatu hari, gurunya mengharuskan setiap anak memilih salah satu temannya sebagai pasangan bermain selama satu hari. Tak disangka ternyata Sinta memilih Ozza. Ozza bangga sekali.

Gue tau Ozza di usianya yang lima tahun belum lancar membaca, cuman bisa baca judul-judul, menulis huruf pun masih gede-gede keluar dari garis, bahasa inggrisnya masih sebatas animals, mengajinya baru buku umi dua, atau menghapal surat-surat pendek Al-Qur’an nggak secepat teman-temannya yang lain karena dileskan ibunya mengaji-lah, calistung-lah, sempoa-lah, jarimatika-lah. For God’s sake, dia baru lima tahun! Kenyataannya gue malah lebih bangga sampe terisak-isak, kalo ternyata empati Ozza lebih cepat berkembang daripada kemampuannya yang lain. Persis seperti yang kami harapkan dari namanya, Irvana Ozza Al-Zakiya, anak cerdas yang suka menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Semoga hingga dewasa nanti hatimu tetap seputih salju, Nak, tak terpengaruh racun-racun jahat yang membuatmu jadi apatis atau sombong. We love you, Ozza!

Share/Bookmark

Monday, August 9, 2010

Jomblo Note

Suatu hari gue nyambangin gramed dan nemu buku ini. Panduan Pakar untuk Menyelesaikan Segala Urusan Dengan Cepat : 100 Cara Membuat Hidup Lebih Efisien. Suami ngetawain aja, ngapain sih gue beli buku gituan. Dia buka buku secara acak dan langsung tambah ngakak nemuin judul2 seperti cara efisien menjual rumah, mendapatkan pinjaman ke bank, memilih pakaian etc. Kayak gitu aja kok mesti baca buku, katanya. Ha-ha-ha. Emang sih aneh n’ maybe mubajir, tapi sebagai pemuja keefisienan, gue ngerasa masih nggak ahli, coz masih aja berkutat soal detail, padahal itu tuh yg bikin kita buang-buang waktu. Jadi apa salahnya sih kita pengen referensi. Gitulah pembelaan gue kira-kira. So anyway, buku itu kebeli dan langsung dibaca. HAHAHAHA. Isinya bener2 100 cara efisien untuk 100 masalah dunia. Tapi yah meski awalnya gue ngerasa rugi pas ngebaca judul2nya, iya bener juga suami gue, ngapain juga gue beli buku yang ngajarin tentang urusan ngebersihin rumah, nyetrika, nemuin barang ilang, terus urusan kerjaan kayak meraih sukses, mengarungi samudra informasi, sampe urusan siap2 di pagi hari. Terus ngebahas urusan pikiran juga, gimana cara berkonsentrasi dengan efisien, berpikir cepat, menilai sifat orang sampe memerangi jerawat. HAHAHA. Tapi okelah gue kasi kesempatan lagi sama si buku kecil merah. Gue baca dan baca, sampe akhirnya tau2 udah magrib. Wedeeeeeh. Lumayan juga info2nya. Banyak yang belum gue tahu dan banyak lagi yang belum nyampe ke otak gue. Hebat juga si pengarangnya, Samantha Ettus. Jadi ceritanya dia nggak ngajarin orang2 tentang bagaimana menyelesaikan 100 urusan dunia tadi, tapi dia serahin langsung ke pakarnya, ke profesionalnya, orang2 yang emang tiap harinya ngurusin ke-100 hal tersebut. Kayak urusan membeli dan menjual rumah, dia tanya langsung ke raja propertinya. Urusan mencuci pakaian, dia ke ahli perawatan kain. Mengiris sayuran langsung ke koki terkenal. Mempersingkat waktu meeting langsung ke CEO terhebat, mengatasi rasa takut ke psikolog, sampe urusan travelling dia serahin ke orang National Geographic. Great pokokelah. Sampel pertama aja, gimana caranya berpikir cepat. Langkah awal adalah mempelajari perilaku manusia, dengan cara mengamati orang2 di sekitar. Dari situ kita bisa nyimpulin bahwa ternyata pola manusia itu bisa diramalin, bisa diantisipasi. Dari situ bisa membantu kita bereaksi lebih cepat. Hehehe. Nggak sombong nih, gue sih lumayan bisa lah untuk berpikir cepat, tapi baru tau ternyata ada ilmunya juga untuk yang ginian. Usefull lagi.

Nah, sampel kedua adalah alasan kenapa gue bikin notes ini. Hehehe. Buku ini juga ngebahas bagaimana cara efisien mencari jodoh. Hahaha. Emang sih kayaknya absurd karena jodoh kan urusan Tuhan, gimana caranya kita bisa mengefisienkan hal tersebut? Tapi, ternyata isinya lebih bagus dari yang gue duga. Bener2 masuk akal dan sangat mungkin ternyata untuk mengefisienkan hal absurd seperti urusan cinta. Nah, di notes ini gue pengen berbagi buat temen2 jombloners, suer deh, bukannya berniat aneh2, tapi gue bener2 concern sama lo2 semua. Just open your mind, ok and have fun to read it ;D.

Urusan nyari jodoh ini dipakarin Janis Spindel, pendiri Janis Serious Matchmaking yang udah nulis buku macem2 dan udah nyomblangin sekitar 800 perkawinan. Katanya, bayangin aja lo lagi ngejalanin suatu misi. Jadi luangin waktu, perhatian dan pikiran untuk misi ini, sama seperti kalo lo pengen naik jabatan, ngubah karier, atau latihan lomba maraton. Cari jodoh sama aja, tapi lebih penting!

Dia punya 5 panduan dan sebelum ngejalanin semuanya, katanya lo mesti MAU untuk Fokus dan Siap menjajaki semua opsi. Kalo lo oke, baca dah! :D

Pertama, nilai diri sendiri. Lo berdiri depan kaca. Lo nilai sendiri penampilan lo. Apa udah yang terbaik? Keliatan sehat dan bugar? Keliatan rapi? Boleh juga mengikuti gaya masa kini, tapi yang penting adalah rapi. Karena penampilan itu penting. Karena ini modal agar dapat bersaing dalam dunia asmara dan menarik jenis orang yang lo pengenin.

Kedua, mesti realistis. Apa sih yang lo harapin dari pasangan hidup? Sesuai nggak dengan gaya hidup dan hakikat diri lo? Susun daftar kualitas yang lo pengenin, jujur ttg apa yang lo pengen cari dan siapa yang kira2 tertarik sama lo. Karena lo nggak akan pernah nemuin orang yang lo cari kalo lo nggak tau siapa yang lo mau cari, kan?

Ketiga, mesti ramah. Pastiin sikap dan bahasa tubuh lo nampilin gaya “siap menikah”. Jadi lo mesti mudah dideketin, terbuka dan ramah. Nyapa lawan jenis. Bersikap nyaman dan percaya diri, keluarin sikap ceria. Dan jangan lupa, lo mesti nampilin situasi yang nunjukin kalo lo “lajang”, bukan nunjukin kalo “lo udah ada yang punya” atau lo cuman pengen “berteman” aja sama dia. Gaul dah pokoknya!

Keempat, mesti proaktif. Maksudnya pake tiap opsi yang ada. Misalnya ikutan semua kegiatan yang memungkinkan untuk ketemu orang lain, seperti klub hobi, acara2 ngumpul atau gabung si situs kencan internet (tapi jangan ngarepin keajaiban, ada yg sukses, ada yg nggak, internet cuman salah satu opsi yang bisa dijajakin), atau kalo mau yang lebih ekstrem ya ikutan ajang cari jodoh (periksa dulu reputasinya). Intinya aktif nyari dimana aja. Who knows, right?

Kelima, jangan buang waktu dalam hubungan yang jalan di tempat. Jangan kencan sama orang yang nggak fokus ke pernikahan. Jangan bertahan hanya karena hubungan itu fun. Omong kosong kalo ada yg bilang perlu waktu lama untuk pacaran, untuk tahu siapa dia. Khususnya untuk lo yang udah nyampe umur tertentu (tiga puluhan) dan udah berkelana di dunia kencan sepuluh tahunan, kayaknya nggak perlu lagi lah pacaran sampe setahunan hanya untuk nentuin apakah dia memang orang yang pas. Mestinya lo udah tau apa yang lo inginkan, dan di saat lo ketemu sama dia, lo udah tau bahwa lo udah nemuin orangnya. Satu lagi, lebih baik nyingkir kalo liat bendera merah atau tulisan tangan di dinding – artinya kalo si dia nggak niat hubungan serius, atau kalo dia punya masalah keuangan or pekerjaan, atau kalo hati kecil lo ngebisikin bahwa dia bukan orang yg tepat. Just trust your insting. Tentukan kerangka waktu, misalnya dalam waktu 3 bulan lo udah tahu dia layak dijadiin pasangan hidup, ya lo mesti ngebicarain hal itu. Mulai dengan pernyataan seperti ini : “Kita ternyata punya nilai2 yang sama, nih, jadi mau kemana tujuan kita selanjutnya?”

Terakhir, kalo lo udah lamaran, masa tunangan harusnya jangan lebih dari 6 bulan. Atau lebih bagus lagi langsung aja nikah. Ngapain nunggu? Tuntasin misi lo dan jalanin kehidupan bersamanya! Deal? Good luck, brur…. ;D

Share/Bookmark

Miss Jinjing


Di Jakarta, jika ada diskon Bottega Venetta di Senayan City, meski harganya sampai 40 juta per biji, jualan tetap aja laris manis tanjung kimpul. Jika dulu pembelinya hanya dari Jakarta, kini didominasi oleh orang-orang berlogat Jawa Timur, Medan dan Palembang. Cukup banyak remaja Indonesia, SMU atau kuliahan, sering weekend ke Singapura hanya untuk belanja. Mereka selalu bergerombol dan masing-masing selalu membeli tak hanya 1 item tapi banyak. Seorang Beauty Assistant di butik terkenal Amrik mampu menyebut dengan fasih nama-nama pelanggan Indonesia-nya yang umumnya pejabat atau mantan pejabat, beserta nama-nama keluarganya. Butik Aigner di Jerman pernah dibuat heboh oleh seorang Nyonya mantan pejabat Indonesia yang membeli 80 tas hanya untuk ‘oleh-oleh keluarga di kampung’ dimana harga paling murah tas di butik tersebut senilai 6 juta rupiah, maka si Nyonya menghabiskan sekitar 640 juta rupiah hanya untuk oleh-oleh. Belum lagi sebelumnya si Nyonya telah membeli sebanyak 40 tas Hermes. Di kamar pribadi seorang Nyokap Indonesia, yang rumahnya bigos –oh big sekali-, terpajang lemari khusus tas-tas koleksinya, sepanjang 10 meter, tinggi 3 meter, sebanyak 5 tingkat. Isinya berbagai tas merek ternama, paling sedikit 200 tas. Semua warna di semua model, ada. Dari yang klasik sampai limited edition, she’s got all. Hebatnya lagi, semua tas-tas mewah itu tidak pernah dipakai, hanya dipandangi kagum, dilap-lap, dielus-elus. Lainnya, menurut pengakuan Sales Attendant di Hermes, salah satu kolektor terlengkap tas Hermes adalah seorang ibu mantan pejabat setingkat menteri di Indonesia, sedikitnya beliau memiliki 30 pcs, sementara harga tasnya bisa 50 juta/pcs. Jadi nilai investasinya mencapai 1,5 milyar! Ckckckck…



Inilah yang dipaparkan Mrs Amelia Masniari dalam bukunya, Miss Jinjing – Belanja Sampai Mati. Saya meminjamnya dari seorang teman, Menik, Sabtu kemarin. Judulnya cukup unik. Begitu juga covernya. Seorang perempuan yang tengah ngelirik ke atas dengan timbunan bermacam tas belanja di sekelilingnya, yang jika timbunan tas itu dibuka, masih terdapat aneka tas belanja di baliknya. Saya pikir buku ini mungkin akan selucu Becky Blomwood, si shopaholic dari London karakter khayalan my favorite writer, Sophie Kinsella. Nyatanya sama sekali tidak selucu dan semenarik Blomwood, karena buku ini bahkan bukanlah novel, isinya hanya berbagai pengalaman belanja seorang Amelia dan teman-temannya. Bagaimana orang Indonesia memang benar-benar gila belanja. Yang tidak hanya eksis di kawasan belanja Asia, tapi juga Amrik dan Eropa. Dan inilah yang membuat saya terheran-heran sampai terjijik-jijik sendiri. Maaf. Bukannya saya anti-kemapanan, saya toh sangat menikmati kenyamanan, tapi dalam level berbeda. 6 juta rupiah bagi saya lebih bagus dipake buat travelling ke luar negeri, hunting konsernya Pearl Jam. 50 juta rupiah bagi saya lebih baik untuk memulai bisnis. 640 juta rupiah bagi saya lebih potensial diinvestasikan ke rumah atau tanah, dan 1,5 milyar? Hmm… mungkin saya hanya menyimpannya di bank, sampai ada kebutuhan yang masuk akal memerlukannya.

Oke, level saya mungkin baru mencapai kebutuhan sekunder, dan orang-orang Indonesia gila belanja itu mungkin sudah mencapai level tersier, atau mungkin beberapa belum karena mereka memang umumnya di luar kesadaran saat melihat tulisan SALE, sementara begitu buanyak orang Indonesia lainnya masih merangkak untuk mencapai level primer, yaitu makan apa hari ini, jadi patut dimaklumi segila apapun tingkah orang-orang yang diceritakan dalam buku ini, apalagi itu uang-uang mereka juga, ngapain diambil ribet, ya kan? Kalo saya yang ditanya begitu, pastinya saya jawab, ya enggaklah, ini penting dibikin polemik. Nilai investasi katanya. Bah! Memangnya bener-bener ada orang gila barang mewah yang rela melepas barang-barang pujaannya suatu hari nanti, bahkan setelah barang-barang itu nggak muat lagi atau saat dia bangkrut? Hmm mungkinkah orang-orang ini bangkrut? Kayaknya dengan lakunya kapitalisme, yang ada juga orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin. Mungkin hanya Becky Blomwood yang akan melakukannya, menjualnya saat bangkrut, itu juga karena Becky bukanlah orang kaya, dia hanya orang bergaji biasa-biasa aja yang juga gila belanja dan tersesat dalam penggunaan kartu kredit, daaan ia tidak nyata. Sementara orang-orang kaya yang gila belanja barang mewah ini? Nggak mungkin barang-barang itu dijual lagi. Paling hanya dijadikan pajangan di rumahnya, dibikin lemari khusus, mungkin lima tingkat, hanya dipandangi, dilap-lap, dielus-elus. Mestinya orang-orang Indonesia gila barang-barang mewah itu bisa disadarkan, entah gimana caranya, mungkin dengan menaikkan pajak barang mewah? Meski Indonesia sudah merupakan negara dengan pajak barang mewah tertinggi di dunia, saya sangat setuju jika harganya dinaikkan lagi. Sori, guys, maybe I agree with communist, tapi saya lebih mengagumi Gandhi dengan ajakan hidup sederhana dan cinta buatan negeri sendirinya.

Si penulis sendiri, Mrs Amelia Masniari, berasal dari keluarga sangat berkecukupan, nenek buyutnya seorang anak residen di Jawa, ayahnya seorang dokter bedah, ia seorang lulusan S2 UI, dan suaminya, dia tidak sekalipun menceritakan pekerjaannya, tapi ia sering bepergian jauh dan lama, dan mampu menghidupinya dengan sering berjalan-jalan keluar negeri serta mengunjungi SALE dimanapun, Eropa, Amrik, dan yang paling sering Asia. Ia memuja sepatu, ia punya perancang favorit, Edo Hutabarat, Ghea dan Oscar, sementara ibu dan saudara perempuannya lebih suka baju rancangan Biyan. Jadi sebagian besar baju-baju dalam lemarinya adalah hasil tangan para perancang terkenal Indonesia tersebut. Favoritnya warna hijau dan anehnya, ia anti kartu kredit. Ia memiliki tiga anak kecil –cowok- yang cukup sering dibawanya shopping ke luar negeri dan punya blog jauh sebelum bukunya terbit dengan judul sama Belanja Sampai Mati.

Bagi anda yang identitasnya shopper sejati, buku ini jelas untuk anda. Selain cerita-cerita di atas, ia juga membahas jadwal musim sale di seluruh dunia, bagaimana membedakan barang imitasi dengan aslinya, tempat penyelundupan berlian di Jakarta, warehouse tas premium palsu, berbagai tips sampai tips shopping di Guangzhou, China, membahas kehidupan kaum gay, karena notabene ia hidup dekat dengan mereka, serta sejumlah jalan keluar berongkos ribuan dolar gimana caranya agar tetap disayang suami.

Tapi nyatanya ada juga yang saya suka dalam buku ini. Ia sempat menyinggung bisnis garmen China dan kebanggaannya akan karya Indonesia . Delapan tahun lalu, saat garmen/tekstil China belum menguasai market dunia, garmen Indonesia ternyata jadi primadona buyer asing karena kehalusan pembuatannya. Tahun 1999-2003, yaitu saat krisis moneter, garmen Indonesia sempat nampang di departemen2 store terkenal Amrik, Paris, Amsterdam, Milan, dll. Tapi di tahun 2003 kita nyaris tidak bisa lagi berkompetisi dengan China dalam hal harga, konsistensi dan produk massal. Jadi satu persatu order tersebut pindah ke tangan China. Di Mangga Dua bursa baju anak-anak bahkan 100% buatan China, kecuali baju muslim. Industri baju kelas menengah ke bawah sudah mati dan tidak sanggup bersaing dengan China. Berbeda halnya dengan sandal atau sepatu, buatan Indonesia lebih enak dipakai, meski harga yang paling murah sekalipun. Selain merajai industri garmen, China juga menguasai industri aksesoris – semua aksesoris jam tangan dan kacamata di Mangga Dua adalah buatan China – juga tas-tas mewah buatan desainer dunia dengan cara membajaknya. Mereka membeli tas-tas tersebut dari desainer aslinya, mempretelinya satu-satu dan membuat copy-paste-nya. Sering juga desainer-desainer top Eropa menyewa pengrajin China, terutama Guangzhou, karena upah mereka jauh lebih murah dan hasil kerjanya pun halus. Mereka dikontrak per musim, dan saat mereka tidak sedang dikontrak, mereka membuat tembakannya. Jenius, kan? Hahahaha.  


P.S : Ada satu lagi. Ceritanya dia pelanggan setia La Mer Mousterizer Gel Cream (katanya ini pelembab terbaik di dunia, harganya USD 230). Satu kali dia sempat pacaran dengan seorang pilot Qantas, dan saat si pilot membelikannya, si pilot nanya2 kenapa itu cream kok bisa semahal itu, saat itu juga si Mrs Amelia ngerasa ilfil dan memutuskannya. Laki-laki kok pelit banget, katanya. Huahahaha. Kasihan juga ya cewek2 manja itu, berpikir bahwa hidup sejatinya adalah La Mer Mouisterizer dan Hermes, c’mon girls, wake up! 

Share/Bookmark

Marriagable


Sebulan yang lalu gue ngobrak-abrik lemari buku seorang teman dan nemuin novel lumayan bagus. Judulnya Marriagable, buah karya Riri Sardjono, 35 tahun, seorang arsitek. Sebenarnya ini buku lama, diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2006 dalam segmen yang baru gue tau, kamar cewek -semacam chicklit dan bersimbol bantal besar empuk berwarna ungu, cewek banget-, dan masih pada tahun yang sama sudah mencapai cetakan ketiga. Amazing ya untuk tulisan pertama, yang tumben, gue kok sama sekali belum pernah denger namanya, ya? Hehehe. Mungkin ini pengaruh dari kesibukan setingkat menteri bersama dua anak gue yang lucu-lucu serta karir pegawai negeri yang lumayan sepi job deskripsinya.

Buku ini bertokoh seorang Flory, single, 34 tahun, seorang arsitek, cerdas tapi rapuh, dan untungnya memiliki empat sahabat gila tapi kocak setengah mati. Dina si sinis yang seksi, Kika si feminis, Ara yang super romantis, dan Gerry yang diduga gay. Melihat kombinasi ini gue langsung inget Bridget Jones, yang dalam mengarungi kehidupan single-nya yang urakan ditemani tiga sobat setia, Tom yang jelas-jelas adalah gay, Sharon ‘Shazzer’ yang seksi sekaligus feminis, serta Jude yang romantis dan punya pacar Richard si bengis yang sangat tidak tertarik untuk berkomitmen lebih jauh a.k.a menikah.

Gue jadi mikir, apa si Riri memang sengaja mencontek kombinasi itu mentah-mentah, atau memang kehidupan perempuan single mandiri yang smart dan lucu umumnya punya sahabat gay. Tapi gue  jadi makin percaya, bahwa jika ada tiga-empat sahabat yang tengah nongkrong ha-ha-hi-hi dan salah satunya adalah cowok, definitely he’s a gay. Hihihi. Gue sendiri belum pernah punya teman seorang gay dan pembahasan panjang lebar tentang hal yang satu ini tentu saja bukan bermaksud mendiskreditkan, well gue cuma heran dengan kombinasinya, that’s all. :D

Kisahnya sendiri sedikit berbeda dari Bridget Jones, sangat Indonesia asli, tentang Flory yang meski adalah produk perempuan smart jaman kekinian, tapi nggak berdaya ketika dijodohkan maminya dengan Vadin, anak dari teman maminya. Jadi ceritanya berkisar pada pergelutan Flory menemukan kepercayaannya akan cinta dalam diri seorang Vadin. Lumayan membosankan sebenarnya karena Riri kurang menjaga kemenarikan sebuah cerita. Hingga bab penghabisan, yang diobrolkan Flory dan para sahabatnya hanyalah permasalahan Flory. Flory yang dijodohkan, Flory yang dilamar, Flory yang masih perawan, Flory yang punya syarat mau dinikahin asal belum mau melakukan hubungan suami-istri, Flory yang panik ciuman sama Vadin, Flory yang cemburu berat dengan Nadya, eks pacar Vadin, tapi gengsi bilang cemburu hingga bertingkah aneh2, Flory yang akhirnya berhubungan seks dengan suaminya sendiri, dan yang paling membosankan adalah Flory yang meski digempur dengan berbagai fakta dan nasehat bahkan dari maminya sendiri, tetap saja nggak bisa percaya bahwa Vadin mencintainya dan berani mengakui bahwa ia pun mencintai Vadin. Begitu banyak kalimat dan fakta masuk akal yang mestinya dia berhenti dari kebodohannya, tapi tetap saja bebal. Cape banget bacanya. Flory dengan berbagai masalah besarnya.

Padahal sahabat-sahabatnya punya problem jaaauuuh lebih payah. Dina dengan suaminya yang nyata-nyata selingkuh, Ara dengan suaminya yang sering memaki karena tak mengerti bentuk kasih sayang lain, Kika dengan maminya yang ditinggal si papi bersama perempuan yang lebih pantes jadi kakaknya, dan Gerry dengan gaya hubungannya yang berbeda.

Hebatnya lagi, setelah Flory mendengar berbagai masalah teman-temannya, ia masih bisa tetap menangisi problem besarnya itu. Ckckckck. Luar biasa. Egosentris. Sangat tidak level dengan Jones yang jika nongkrong dengan para sobatnya, masing-masing selalu bercerita tentang masalah dirinya, sementara yang lain berupaya mendengarkan dan berdebat memberikan solusi. Bahkan Jones sabar menunggu gilirannya curhat setelah ketiga temannya selesai!

Lalu kira-kira apa ya yang membuat buku ini mencapai cetakan ketiga pada tahun yang sama? Gue yakin loe akan mengenalinya langsung pada bab pertama. Ya, Riri Sardjono punya humor yang sangat khas. Bukan gaya analisa super-lucu-tapi-bener-nya Aditya Mulya dengan Jomblo-nya (my favorite), tapi gaya celetukan-celetukan sadis-sinis-tapi-bener-nya pelawak kelas wahid luar negeri semacam Chandler di film seri komedi Friends atau Shrek.

Black comedy, komedi hitam yang penuh kesinisan dan ironi. Dan Riri sengaja menempelkannya dimana-mana. Jadi meski ngerasa cape ‘ngedengerin’ Flory dengan semua masalah besarnya, gue  sangat terhibur. Dan karena ini buku hasil minjem dan akan dikembalikan, gue nggak bisa menahan godaan untuk ‘menggoreskan oleh-oleh’ alias mengutip banyak diantaranya di sini, sekedar supaya gue nggak lupa dan membaginya dengan kalian semua. Silakan disimak ya, dijamin efeknya bikin mumet lo ilang deeeh hahahaha……

Adegan 1 : Saat Flory tahu maminya menjodohkannya, dengan geram ia mempermasalahkan.
“Kenapa sih gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!”
“Karena elo punya kantong rahim, darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date.”
“Yeah,” sahut Flory sinis. “Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama.”

Hahaha………………………, bener juga!

Adegan 2 : Saat mereka berempat nongkrong dan Gerry tiba-tiba dipanggil seorang lelaki yang lumayan kiyut dan langsung disambut Gerry dengan gembira.
            “No wonder kita semakin kesulitan mencari lelaki,” kata Kika acuh.
            “Tapi kenapa mereka harus kelihatan menarik?” desah Dina kecewa. “Apa para lelaki cuma dikasih dua pilihan sama Tuhan? Menarik dan gay, atau membosankan dan normal.”

Bwaahahaha……………………………

Adegan 3 : Adegan berikutnya masih lebih lucu setelah tahu bahwa si lelaki kiyut itu, Aldo, ternyata adalah psikolognya si Gerry.
            “Elo punya psikolog?” ejek Kika tergelak.
            “Apa elo nggak tau, punya psikolog itu trend di kalangan masyarakat kelas atas?” sahut Gerry balas mengejek. “Bahkan Aldo sendiri punya psikolog.”
            “Darling, elo percaya sama psikolog yang punya psikolog?” tanya Dina. (Hahaha!) “Tapi yah paling nggak hidup lo jauh lebih beruntung daripada Flory, Ge. Flory harus dicarikan lelaki sama ibunya sementara elo bisa nyari lelaki sendiri.”

Huwahahaha……………………………..

Adegan 4 : Satu hari mereka berempat nongkrong dan tak sengaja topik apa-pekerjaan-Vadin mencuat.
            “Ngomong-ngomong Vadin kerja apaan?” tanya Ara.
            Flory menatap panik. “Kenapa panik gitu?” tanya Kika sebal.
            “Guru Biologi?” tanya Dina cekikikan.
            “Instruktur senam hamil!” pekik Gerry girang.
            Flory mendesah putus asa. “Gue nggak tahu kerjaan dia apa.”
            “….”
            Bum! Hening dan semua mata membelalak terkejut menatap Flory.
            “Elo pengen kawin sama orang yang elo sendiri nggak tau kerjaannya apa?” pekik Kika. “Ternyata elo lebih sinting dari yang gue kira!”
            “Jangan terlalu dipikirin, honey,” kata Gerry sambil memandang Flory kagum. “Elo pasti bisa bertahan cukup lama kawin sama dia.”
            “Kenapa?”
            “Karena elo punya bahan obrolan yang banyak!” (Hahahaha………)
            “Yang penting, elo harus tau tiga jenis profesi yang masuk daftar cekal buat calon suami,” nasehat Dina serius. “Politisi, pengacara dan dokter kandungan.”
            “Dokter kandungan?” tanya Ara terkejut. “Apa salahnya? Mereka kaya! Bayangin, manusia nggak pernah berhenti berproduksi. Itu sumber uang abadi selain kondom.”
            “Mungkin elo benar, Cinderella,” sahut Kika acuh. “Tapi masalahnya adalah … dia lebih ngerti vagina daripada elo.”  (Hahaha……..)
            “Ngomong-ngomong soal vagina, profesi seksolog juga masuk daftar cekal calon suami,” ujar Dina menimpali Kika.
            “Karena mereka tahu banyak tentang jurus bercinta?” gerutu Ara sebal.
            “Karena mereka tahu terlalu banyak, honey,” sahut Dina kalem. “Saking banyaknya sampai-sampai kita nggak bisa pura-pura orgasme.” (Hahahaha…….)
            “Jadi gue mesti kawin sama siapa?” tanya Flory bingung.
            “Arkeolog,” jawab Dina mantap.
            “Kenapa?” tanya Ara penasaran.
            “Karena semakin kita tambah tua dia pasti semakin tertarik.”
            “Emangnya gue fosil!”

Wkwkwkwkwkwkw……….!

Adegan 5 : Setelah Flory tahu bahwa pekerjaan Vadin adalah pengacara.
            “Vadin pengacara. Apa penjelasannya untuk itu?” desah Flory putus asa.
            “Objection,” jawab Dina mantap.
            “Maksud lo?”
            Kika menatap Flory dengan iba. “Nanti, setelah elo lagi terlentang dalam kondisi telanjang di atas tempat tidur, elo akan dengar dia teriak …..”
            “Objection!” timpal Dina dengan gaya dibuat-buat. “Congratulation, darling. Elo mendapat calon suami yang terlatih mendebat dan memprotes bahkan dalam kondisi paling bergairah sekalipun.” (Wuakakak……..)
            “Bukannya semua laki-laki emang gemar berdebat dan protes?” tanya Ara keberatan.
            “Yup. Tapi untuk profesi yang satu ini, mereka bahkan memasukkannya dalam kurikulum pelajaran resmi.”

*Guling-guling sakit perut*

Share/Bookmark