Showing posts with label eddie vedder. Show all posts
Showing posts with label eddie vedder. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

I'm Still Here

She said to me over the phone
She wanted to see other people
I thought, "Well, look around, they're everywhere"
Said that she was confused
I thought, "Darling, join the club"
24 years old, mid-life crisis
Nowadays hits you, when you're young
I hung up, she called back
I hung up again, the process had already started
At least it happened quick
I swear I died, inside, that night
My friend he called, I didn't mention a thing
The last thing he said was, be sound, sound...
I contemplated in a awfull thing, I hate to admit
I just thought those would be such appropriate
Last words, but I'm still here, and small, so small...
How could this struggle seem so big? So big...
While the palm in the breeze still blow green
And the waves in the sea still absolute blue
But the horror 
Every single thing I see is a reminder of her
Never thought I'd curse the day I met her
And since she's gone and wouldn't hear
Who would care?
What good would that do?
But I'm still here
So I imagine in a month or 12
I'll be somewhere having a drink
Laughing at a stupid joke
Or just another stupid thing
And I can see myself stopping short
Drifting out of the present
Sucked by the under tow and pulled out deep
And there I am, standing
Wet grass and white headstones, all in rows
And in the distance, there's one, off on its own
So I stop, kneel, my new home
And I picture a sober awakening
A re-entry into this little bar scene
Sip my drink til the ice hits my lip
Order another round
And that's it for now
Sorry
Never been too good at happy endings

This song is written by an extraordinary talented man named Eddie Vedder, dedicated to every single human who contemplate at awfull things, struggling for horror days, and never been too good at happy endings, but always keep standing.

Share/Bookmark

Tuesday, January 11, 2011

Me Versus Eddie Vedder


Sore beberapa hari yang lalu, paket yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang. Sebuah DVD dokumentasi Pearl Jam Night yang ke-V, acara tahunan komunitas pecinta Pearl Jam di Indonesia, dengan homebase Jakarta. Oh, ternyata isinya ada dua CD, satu isinya rekaman visual jamming-nya, satunya lagi format MP3. Malamnya tuh DVD langsung gue puter, gue pilih yang bisa ditonton dulu dunk, daripada yang didengerin hehehe.

Well, ternyata itu rekaman lumayan dikit isinya, emang sih semua band ada di situ, tapi nggak semua lagu yang mereka bawain ada di dalamnya. Lumayanlah, apalagi satu-satunya lagu yang gue serius penasaran banget gimana visualisasinya, Corduroy, terpilih sebagai pembuka. Wiih, bener kata Eko dalam notes-nya, one of the PJID admin, cabikan gitarnya om Dankie, si pohon tua seniman asal Bali, benar-benar menyuguhkan sihir ke dalam lagu itu.

Sayang, secara perform DVD keseluruhan, kualitas rekaman suaranya nggak gitu asyik. Suara vokalisnya kalah gede sama suara alat musiknya. Jadi sepanjang nonton, yang ada hanya berisik dan berisik, gue kurang bisa menikmati suara vokal si penyanyinya. Padahal itu yang paling penting, kan, dalam sebuah acara pertunjukan musik. Saking berisiknya, suami sampe kebangun sambil bawa bantal, merem melek, ucek2 mata, kirain ada ribut-ribut apaan gitu. Hahahaha. Padahal gue cuman nyetel sampe level 3 bars di volume player-nya.

Kesimpulannya setelah menikmati tontonan itu, well, not bad, tetep aja yak, nonton secara live lebih direkomendasikan daripada beli DVD-nya, hehehe.

Things were running simply boring, sampe akhirnya gue tidur. Di dalam mimpi gue ngerasa melayang-layang nggak keruan kesana-sini, hingga finally gue mampir di sebuah ruangan kecil, yang tengah mengadakan rapat kecil. Tema rapatnya itu yang mencengangkan: bahwa seorang Eddie Vedder benar-benar akan datang ke Indonesia beberapa hari kemudian, dimana ia mau konser tapi hanya ingin ditemani oleh musisi lokal. Wiiiih, gilaaaaak! Gue makin demen ajah sama si om yang satu ituh, betapa berani ia mengambil keputusan-keputusan penting yang sangat beresiko *ini masih dalam mimpi lho, yah*

Sejurus kemudian, gambar-gambar dalam kepala gue saling mengacak, hingga tibalah D-day. Seingat gue, saat itu gue disibukkan dengan tugas ini-itu, entah apaan, gambarnya saling mengacak lagi, pokoknya tuh tumpukan tugas mesti dilaksanain, diselesein dan gue udah takut aja gue nggak bakalan bisa dateng pas konsernya.

Bener aja. Gue ketinggalan konsernya! Keseeeeelllll……! Gondooooookkk…….! Gue hanya bisa nonton rekamannya, dimana si om ganteng pake kemeja ijo lumutnya, my also foreva favorite colour, duduk di atas bangku tinggi di panggung studio kecil, memetik gitarnya sambil tersenyum, menyanyikan Around The Bend. Sementara sejumlah musisi lokal yang menemaninya di sekelilingnya, nyengir dan terus-menerus nyengir, mungkin kalo nyengir bisa mengakibatkan kematian, mereka udah tewas beberapa menit setelah acara dimulai. Sapiiiiiiii….!


Padahal inilah jenis konser yang gue impi-impikan seumur hidup *kayak ini lagi nggak mimpi ajah, hahaha*. Bukannya di lapangan besar dengan mereka nge-band jauh di atas panggung sana, sementara gue nyempil di kerumunan banyak orang. Eeeeww, got so crowded, I can’t make room. Itulah kenapa gue nggak suka materi2 bootlegs yang kebanyakan isinya konser Pearl Jam disanalah, disinilah. Gue lebih suka konser yang lebih private, yang lebih bisa menikmati full suara vokal si om dan musiknya secara utuh di dalam ruangan, mmm… apa ya istilahnya, mmm lebih ke PJfreak friendly kali yaa *coba2 ngikutin istilah user friendly, tapi nggak tau pas atau nggak, nangkep atau nggak, hehehe*. Makanya konser unplugged Pearl Jam di MTV tahun 1992 itulah favorit gue, meski si om Eddie-nya sempat lumayan aneh dengan nyanyi sambil berdiri dan muter-muter di atas kursi :p

Samar-samar terdengarlah suara dede Naula, “Cucuuuu… cucuuuuu, buuu…..”. Refleks gue bangun, terhuyung-huyung keluar kamar, liat jam, hmmm… jam tiga pagi, cari botol susu, bikin susu lambat-lambat, kasiin ke mulut dede Naula, dan tidur lagi.

Gambar-gambar kembali muncul. Melayang-layang menjejak ke sana-sini. Slowly but sure, mendadak gambar berhenti dan kembali ke scene sebelumnya. Scene dimana gue teriak kekeselan karena ketinggalan konser si om ganteng. Saking keselnya gue bertekad bahwa gue harus ketemu si om entah gimana caranya. Mumpung dia masih semalam di Jakarta. Gue pun berjalan dan berjalan. Nggak tau mau kemana. Pokoknya buru-buru bangetlah. Hahaha.

Sampe akhirnya muncul gambar sebuah lokasi. Kayaknya kok gue familiar banget, yak, sama lokasi ini. Sawah menyebar di sepanjang jalan, rimbunan hutan kecil di kejauhan, pagar-pagar bambu di jalan setapak tanah merah. Semak-semak meliuk disana-sini tertiup angin. Lha, ini kan sawah di belakang kampus gue dulu? Hahahaha. Ngapain gue kesini, sih? *yak, kampus gue yang antik, dikelilingi sawah, empang dan kebun karet dan hutan kecil jauh di ujungnya* :))

Meski kebingungan, sebenarnya gue mau dibawa kemana sih sama ini mimpi, huh, gue tetap sabar ngikutin apa maunya. Gue susurin jalan setapak dengan meraba-raba pagar bambunya. Hingga tiba di belokan tajam yang penuh semak-semak tinggi. Lalu, voilla!

Mendadak muncul si om pas di depan gue. Haaah? Beneran nih? Gue terbengong-bengong menatap si om yang penuh kharisma ini. Kemeja ijo lumutnya udah ganti pake kaos ijo lumut *hehehe, teuteeeuuup*, celana khaki warna item dan dia sendirian! Si om tersenyum dan nanya apaan gitu. In English, of course. Hahaha. Untungnya gue lumayan bisa ngilangin nervous. Gue jawab juga in English. Hihihi. Dan kita terus tanya jawab dalam bahasa inggris. Nggak tau nanya apaan, nggak tau jawab apaan. Kayaknya waktu dalam mimpi sih hebat banget, ber-isi bangetlah obrolannya, tapi pas sekarang mau ditulis, diinget-inget, kok malah lupa! Hihihi.

Sampe akhirnya kita saling diem-dieman. Bukannya keabisan bahan obrolan rasanya, tapi karena saking nggak percayanya bisa ketemuan. Hahahahaha. Gue liatin si om sambil nyengir-nyengir. Si om juga gitu, liatin gue sambil senyum-senyum. Waduuuh, kok kiyut banget sih si om yang satu ini. Terus tau-tau, gue deketin muka si om, gue seriusin liat matanya. Kok gue proaktip gitu sih, nggak abis mikir deh. Hahaha. Apalagi, iiiih, ternyata si om juga ngelakuin yang sama. Setelah muka gue dan si om berada dalam jarak yang cukup, tiba-tiba gue tangkupin kedua tangan di kedua pipinya, dan gue nanya, “May I?”

Bwahahahahahaha. Asli ancur banget. Dari sekian banyak obrolan menyenangkan yang gue inget cuman adegan yang satu ini, kalimat yang satu ini. Bwakakakakak. Asli deh, gue mesti acungin jempol kaki buat gue sendiri, coz nggak mungkin bangetlah gue kayak gitu di dunia nyata. Hello? Nyium duluan? Hahahaha saking gengsinya gue bahkan lebih suka salto tujuh kali dah!

Lucunya, biarpun di dalam mimpi, gue masih tetep berlogika, gue harus ijin dulu sama si om kalo mau nyium, kan dia cinta banget sama istrinya, bwakakakak. Untungnya si om ngerti kalo ciuman ini bukan ciuman apa-apa, tapi just a freaky fans yang serius penasaran banget pengen nyium idolanya. Dan terjadilah, si om mau aja gue cium! Huwahahahahaha lucky me!

Sebenarnya sih, ya ampun, gue malu banget nulis pengalaman seronok ini, tapi sekali lagi yaaa ampuuun…., kenapa tangan dan otak gue jadi gatel banget pengen nulis privasi ini yak? Yang gue sebelin adalah, meski gue bukan penulis bestseller *ngarep sampe nganga*, nyatanya gue kalo mood nulisnya udah muncul, entah senorak apapun itu materinya, kalo nggak buru-buru ditulis, ya ngeganjel aja gitu di pojokan. Ganjelan yang nggak asyik, coz gue malah nggak bisa kerja, yang ada pelampiasannya cuman maen pesbukan, jalan-jalan ke blog artis-artis, nyari-nyari siapa tau ada artis yang pinter *mayan banyak ternyata, blog-nya Dee yang paling gue suka*, sama sekali nggak produktif, dan ini ngeselin karena faktanya kerjaan lagi numpuk, dan yang nyumpel otak gue cuman adegan “May I?” itu. Sapiiiii…. :))

Seorang temen komentar, “Oh my God, you are not only a vedder freak, but I think you obsessed with him :p”. Hmm, iya ya, baru nonton performance-nya band-band yang covering PJ aja, gue udah kebawa-bawa sampe mimpi, apalagi nonton secara live? Huuuuu, noraaaaks hahahaha…..
Share/Bookmark

Monday, August 9, 2010

You Know You're a Jam-Head When ...

A Jam-Head named Bubba, he's doing a kemo
Satu saat saya lagi bosan bekerja (hehehehe) dan iseng surfing sana-sini, saya nemuin artikel satu ini di pjvault.com. Maybe kalian, truly jammers, pernah membacanya. Artikel ini memuat daftar kegilaan para Jam-Head, didata dari berbagai testimoni mulai tahun 1995 sampai Mei 2009 lalu, sebagai upaya untuk menunjukkan sejauh mana sih PJ fanatics bisa mengekspresikan kegelisahannya. Hihihi. Manusia kalo udah gelisah emang mesti dilampiaskan, bahaya soalnya. Hehehe.

Ekspresi yang sudah pasti biasanya adalah nama email atau bikin password sesuai nama Pearl Jam atau nama anggota band. Di luar yang biasa pastinya juga banyak yang lucu. Misalnya si Pegasus. Ringtone HP-nya adalah selalu lagu Pearl Jam dan kerap membiarkan panggilan telepon hanya karena ia ingin mendengarkan lagunya sampai habis. Hahaha. Steve, membuat playlist PJ yang berbeda setiap harinya sebagai bahan nyanyian saat mandi. Hahaha. Leena, membeli kursi terbaik untuk konser Bridge School via kartu kredit bosnya. Bagooos. Clint, menyiapkan berbagai argumen atas comeback-nya PJ dalam menghadapi Jam-Hate dan punya 12 versi lagu Alive dalam iTunes-nya. Hihihi. Sementara Frank, ia punya tatto ‘Stickman’ di lengannya dan sudah mempersiapkan sejuta alasan yang penuh makna, jika saja ada anak band lain iseng bertanya “Why the fuck did you get that?”. Jiaaaahahaha. Sedangkan Doc, ia selalu menggunakan kata ‘even flow’ daripada ‘even though’ di setiap pembicaraan. Hahaha. Dan George, memaksa diri memakan alpukat dan mencoba menikmatinya, ‘even flow’ benar-benar membenci alpukat sebelumnya. Hahaha. Holly, memastikan anak lelakinya minimal punya satu kaos PJ untuk segala situasi. Hahaha. Gimana koleksi kaos si Holly-nya ya? Terakhir adalah Angie. Dia punya rutinitas nonton 8 kali film Singles setiap tahunnya, dan selalu mem-pause setiap adegan yang ada PJ-nya, sekedar untuk menatap Gossard!!! Huwahahaha.

Ada yang aneh nggak? So pasti. Bean, dia berkeliling kota se-Amerika dan mengumpulkan setiap pengumuman ‘lost dogs’ yang ia temui. Dan Laura, membeli 6 buah alpukat hanya untuk berkreasi seni dengannya. Ckckck. Se-crazy apapun kayaknya saya nggak bakalan seaneh itu deh. Hahaha.

Ada juga yang romantis. Gwen, berdua dengan suaminya sepakat mengikuti tur konser PJ start from Philadelphia hingga ke ujung benua Australia, sebagai honeymoon. What a Jamming Honeymoon! Xixixi.

Ada lagi yang hebat. Hans, ia berjuang keras mengusulkan Pearl Jam sebagai topik esai di salah satu mata kuliahnya, dan berhasil! Juga Megan, dengan sabar ia mendownload semua informasi tentang Pearl Jam, setiap artis yang pernah terlibat kerjasama dengan Pearl Jam, setiap artis yang pernah tur bareng Pearl Jam, dan semua artis yang punya pengaruh terhadap Pearl Jam. Fiuuuh!!!

Yang sangat menggugah adalah Dave. Ia punya 3 account bank, untuk kredit, tabungan, dan terakhir khusus untuk mengikuti konser-konser PJ. Wow! Pemikiran yang sangat praktis dan penuh solusi. Meski harapan saya never stop, tapi selalu berpikir akan kemungkinan terburuk. Bagaimana seandainya PJ tidak akan pernah hadir di sini? Tragis. But that’s life, bro. Tak ada salahnya kalau kita bersiap-siap dan mengalah, no? Kita yang datang mengunjungi singgasananya, layaknya orang naik haji, maka sempurnalah iman kita. Bukan berarti semua yang sudah haji itu sudah sempurna imannya lho, tapi seharusnya itu adalah wujud nyata jika kita benar-benar mengimani sesuatu, kan?

Well, yang pasti, membaca berbagai testimoni ini membuat saya merinding. Dan bukannya pamer-pameran mana yang lebih gila dan seru yang muncul di relung Jammers tersebut, malah semangat sebagai Jammers-nya yang terasa kian berenergi. Membaca artikel ini juga membuat saya dengan nikmat menerawang sejumlah ekspresi kegelisahan di masa lalu. Setidaknya dua diantaranya. Hehehe.

Pertama adalah artikel pendek Whom To Marry/Not To Marry-nya Eddie di buku cover album PJ yang ketiga, Vitalogy. Remember? Nah, artikel pendek itulah yang saya jadikan satu-satunya pedoman dalam mencari si Pangeran. Serius. Saya kutip di sini ya untuk lengkapnya. Eddie bilang salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan dan penderitaan di dunia adalah masih adanya anggapan bahwa dua orang yang saling tertarik fisik, yang sering disalahartikan sebagai cinta, harus menikah. Ia juga bilang bahwa dua orang yang punya temperamen dan pribadi kompleks yang sama, tidak boleh menikah. Dua orang yang sama-sama tinggi langsing atau pendek gemuk, juga tidak boleh menikah. Dua orang yang sama penggugup dan kikuknya juga tidak boleh menikah. Seorang pria tidak seharusnya menikahi wanita yang sifatnya hanya mencari kesalahan. Atau wanita yang tujuan hidupnya hanyalah baju, yang hinggap kesana kemari ke berbagai toko, seperti kupu-kupu mengitari bunga-bunga yang indah. Memilih baju yang mewah dan elegan memang sifat alami wanita, tapi jika hal tersebut sudah menguasai pikiran wanita, jiwanya akan tumpul, pikirannya seterusnya akan gagal berkembang, dan wanita seperti itu tentunya bukanlah partner yang baik bagi pria yang berpikir. Sementara wanita seharusnya tidak menikahi lelaki yang sifat alamiahnya sombong dan kejam, juga mau menang sendiri. Atau lelaki pemabuk, pemakai narkoba, atau yang suka menghabiskan uangnya dalam spekulasi judi atau apapun, atau yang suka segala yang berbau instan karena mereka tak punya daya juang. Hal terpenting dari semuanya adalah berjuang untuk tetap hidup dan tetap dalam kondisi tubuh yang fit, supaya bisa menikmati hidup.

Yeah, meski akhirnya si Eddie sendiri bercerai dengan Beth karena berselingkuh dan kini menikahi seorang mantan model, setidaknya saat itu, artikel ini benar-benar mempengaruhi saya. Bahwa saya tidak akan memilih cowok berdasarkan fisik (sadar diri, tentunya ;D), atau yang bertemparamen tidak sabaran atau berpribadi kompleks seperti yang saya punya, sebagai target untuk didekati. Atau cowok yang sependek dan segemuk saya ;D, atau cowok yang sombong dan mau menang sendiri, pemabuk apalagi pemakai narkoba, dan suka judi. Saya kesulitan untuk hal yang terakhir: hindari cowok yang suka segala yang berbau instan. Karena saya sendiri sedikit suka yang berbau instan, karena apalah daya, kami hanyalah generasi semi-instan, bukannya generasi jaman dulu yang penuh daya juang, dan untungnya bukan generasi jaman sekarang yang sangaaaaat suka segala yang instan. Halah, pantesan aja saya susah dapat pacar, dulu. Hahaha.

Kedua kira-kira tujuh tahun lalu, sekitar tahun 2003 bulan Pebruari, Pearl Jam mengadakan tur konser di lima kota besar Australia, yaitu Brisbane, Sydney, Melbourne, Adelaide dan terakhir, Perth. Saat itu saya sudah bekerja dan kebetulan lumayan punya cukup banyak tabungan. Jadi saya benar-benar excited untuk menonton konser mereka. Betapa pede-nya! Apalagi saya merencanakan sebuah perjalanan yang mungkin hemat, tapi juga penuh petualangan. Hehehe. Tujuan saya saat itu adalah kota pertama, Brisbane, karena yang terdekat dengan Indonesia. Saya sudah menjadwalkan perjalanan via kapal laut selama lima hari Jakarta-Surabaya-Makassar-Ternate-Sorong dengan tiket kelas ekonomi. Lalu dari Pelabuhan Sorong menuju Pelabuhan Mimika menggunakan kapal feri selama 2-3 hari. Dan dari Mimika, kabarnya ada kapal feri menuju Pelabuhan Cairns, Australia, juga ada pesawat misionaris menuju Darwin. Saya sendiri memilih Pelabuhan Cairns, karena itu kota pantai di tepi barat Australia, lalu tinggal menyusuri enam kota pantai ke arah barat dayanya, dan hopla! Disitulah Brisbane berada. Perjalanan yang sangat menantang, sangat direkomendasikan dan pastinya butuh partner. Jadilah saya membajak seorang teman, Lilia Ganjar, seorang Reborn 4 Papua, yang menjejakkan semua mimpinya hanya untuk Papua. Tentu saja ia sangat tertarik. Kami pun mulai survei biaya, informasi segala macam, dan planning sedetil mungkin. Saya dengan mata berbinar-binar membicarakan ini itu, sementara Lilia dengan setia mendengarkan, mengangguk-angguk, menilai-nilai. Sepertinya dia malah kelihatan takjub kok bisa ya Meli se-tidak-realistis ini. Hahaha. Semua hampir fixed saat kenyataan dengan mudahnya membuyarkan semua. Saya diterima sebagai pegawai negeri di Samarinda, Kalimantan Timur, untuk kemudian harus melapor dan langsung mengikuti pembekalannya di awal Pebruari, bertepatan dengan jadwal konser Pearl Jam di Brisbane, 8 Pebruari 2003. Definitely ironic. Dan kalau diingat-ingat, semangat menggebu-gebu seperti itulah yang membuat saya merinding dan jadi ngerasa Jammers banget. Hihihi.

Sekarang ini, setelah saya menemukan kembali kandang yang lama hilang, tentu saja ternyata ekspresi kegelisahan itu masih ada. Karena tak banyak hiburan di kota kecil, saya terkadang menerima ajakan karaoke suami dan teman-teman. Di Happy Puppy, Nav atau Inul Vista, lumayan ada lagu-lagu Pearl Jam. Satu album Ten dan sejumlah singles seperti Last Kiss, Yellow Ledbetter, serta satu Given To Fly. Meski saya dulunya penyiar radio kampus (siaran khusus dua jam tiap minggu: Alternative Jungle, masa-masa yang sangat memuaskan, bisa berkesempatan memprovokasi banyak orang dengan lagu-lagu Stone Temple Pilots, Nirvana, Soul Asylum, Soundgarden, Guns ‘N Roses, dan tentu saja si pemain utama, Pearl Jam! ;D), dalam hal memegang mike, saya adalah pribadi pemalu dan pasif, kecuali saat siaran karena nggak ada yang mengharap saya nyanyi tentunya, selain studio tentunya bukanlah panggung. Bisa dianggap saya juga buta nada dan buta lagu-lagu yang hits, terutama lagu Indonesia. Tapi fakta berbicara lain jika itu lagunya Pearl Jam. Tak peduli betapa bosannya suami dan teman-teman, Pearl Jam tak pernah ketinggalan. Hahaha. Dan betapa herannya mereka melihat saya ‘jingkrak-jingkrak’ setiap membawakannya, dengan nada yang pas. Hihihi. Pearl Jam certainly makes out what deeply hiding inside you, huh?

Share/Bookmark

Tuesday, November 24, 2009

Pokoknya Pearl Jam, Titik !



Sekitar akhir September lalu, seorang teman menulis di wall, “Mel, lo mesti baca Kompas hari ini. Rubrik Komunitas. Lo banget!” Sejenak saya surprised. Teman yang satu ini memang sobat lama, his name is Kahar, tapi saya nggak nyangka kalau dia mengenal saya sampai segitunya. Penasaran, langsung saya hunting koran setelahnya. Perjalanan panjang berburu koran, hampir lima lokasi semua Kompas amblas tak tersisa, dipenuhi keingintahuan luar biasa, kira-kira tentang apa ya? Semenjak kuliah saya ikutan mapala. Sobat lama yang saya sebutkan tadi juga saya kenal dari lingkungan mapala. Dan hingga menjadi ibu dua malaikat kecil, kebetulan komunikasi terhadap lingkungan tersebut jalan terus. Jadi yang ada di kepala saya hanyalah asumsi jangan-jangan Manunggal Bhawana ~ nama mapala di kampus saya dulu, masuk Kompas! Waaah, really excited deh. Kasihan juga sama suami yang mestinya sudah bisa istirahat di rumah, saya paksa temani berburu hingga larut malam. Pokoknya judulnya mesti dapat! ;p

Di kios kecil depan lapas penjara, notabene adalah lokasi ketujuh, akhirnya saya berhasil memperolehnya. Dengan sabar, saya bahkan membolak-balikkan halamannya di atas motor yang tengah melaju kencang, karena dua malaikat kecil di rumah bersikeras tidak mau tidur kecuali menunggu dongeng ibunya. Tak sampai lima menit, mata saya kepentok satu judul yang amat sangat mencengangkan: “Pokoknya Pearl Jam, Titik!”. Begitu kukuh dan abadi. Saya benar-benar tak mengira. Sesuatu yang “Lo banget!” itu adalah Pearl Jam. Bukan mapala, dunia yang saya akui berhasil membesarkan saya. Rasa hangat perlahan memenuhi dada. Teringat dunia hingar bingar kekacauan yang sengaja tak sengaja saya lupakan sejak delapan tahun yang lalu. Ah, gila! Hidup memang gila! Living in a fast line benar-benar membuat saya menjadi tua dan ‘tersesat’. Dan satu kalimat, hanya satu kalimat, sanggup menyihir saya dan menyadarkan kembali siapa jati diri saya yang sebenarnya. Yeah! That’s me. That’s always me. Meli Vedder. A real Jam-Head. Bahkan di dunia mapala, saya selalu meninggalkan jejak dimanapun sebagai seorang Meli Vedder. Bagaimana saya bisa ignore? Menikmati kemewahan album deluxe Lost Dogs di satu hari dan minggu besoknya melupakannya begitu saja? Menemukan album singles di satu toko kaset dengan mata berbinar-binar dan hati yang melompat-lompat, untuk kemudian memandang datar ke deretan album-album tersebut? Penuh semangat menelusuri artikel wawancara dan embel-embelnya di internet dan menyusunnya di satu bundel besar, untuk kemudian melemparnya ke gudang? Bagaimana saya bisa???? Aaaarrrrrggghh…..!!! Crazy Meli, that’s me!

Beribu sesal akhirnya melahirkan beribu terima kasih kepada si sobat lama, big thank’s, brader Kahar, yang telah mengantarkan saya tiba di satu titik balik sebagai seorang Jammer. Saya pun langsung bergerak. Menelusuri keberadaan PJId yang tak disangka begitu produktif, melebur jadi membernya, meski akhirnya mesti puas hanya dengan menjadi non aktif karena kewalahan membaca satu-demi-satu email yang diterima milis *T-i-m-e is priceless to me, cuiiih ;p* dan akhirnya me-resetnya dengan tidak menerima email milis via email pribadi. What a lame. Saya pun me-request pertemanan sejumlah Jammers via facebook, especially the administrators, dalam rangka news tetap ter-up-to-date in a flexible way. Langkah selanjutnya adalah mengobrak-abrik gudang mencari cd/kaset album dan singles juga kompilasi yang terselip nggak keruan. Hasilnya amat menyedihkan. Sebagian besar sudah jamuran. Kumpulan artikel historis dan perjalanan PJ, lirik, foto dan sticker yang saya jilid jadi satu bundel besar, telah memudar hasil print-annya dan lebih celaka lagi, lembarannya kebanyakan sudah menempel, tidak bisa dibuka satu per satu. Tragis. Untungnya, sebuah novel jadi-jadian yang tak pernah saya terbitkan dengan cover Eddie Vedder tengah duduk di atas kloset tertutup, menulis sesuatu dengan kepala tertunduk, dengan rambut tergerai liar dan kaki kanan terongkang di atas kaki kiri, tentu saja tak ketinggalan dengan Doc Marten-nya yang melegenda, semburat warna merah gelap memenuhi gambar, menampilkan nuansa remang abu yang hebat, sukses saya temukan secara utuh. How lucky I am! Pic itu adalah gambar terfavorit saya. Karena pic tersebut berhasil merekam sosok Eddie sebenarnya, bahwa di balik penampilan the coolest vocalist, terdapat pribadi yang senantiasa mempertanyakan dunia dalam perenungan lirik lagunya. Really admires him, dude!

Selain novel jadi-jadian, ternyata saya masih punya back up lagu-lagu Pearl Jam hingga era Lost Dogs di portable harddisk. Oke, modal yang cukup untuk memulai start menggali kembali informasi all about PJ. Apalagi seorang teman baik PJId asal Makassar, bung Ipul, bahkan mengenalkan saya filosofi “Spread The Jam”-nya PJId, dan ia rela mengirimkan sebundel cd koleksi album PJ. Big thank’s to bung Ipul!!!

Yah, tak dinyana, menyelamatkan spirit yang telah lama ‘tersesat’ cukup membuat saya stres. Antara memiliki proyek besar dan sangat bersemangat untuk menyelesaikannya, tapi tak punya waktu cukup adalah kegilaan sementara. Faktor x lainnya adalah status saya yang kini sudah bisa punya uang sendiri dan berani punya mimpi jadi member tenclub (daftar mesti bayar $25), membeli merchandise-merchandisenya yang teramat sangat menggiurkan (khususnya 2008 Ten Super Deluxe Edition seharga $140), serta mengkoleksi kembali semua albumnya physically (how much money!), sementara si Ayah hanya berkomentar pendek, “Band apaan tuh, nggak pernah denger namanya”. Hahahaha.

“All evenings close like this.
All these moments that I’ve missed.
Please forgive me, won’t you dear?
Please forgive and let me share with you around the bend.”



Share/Bookmark